Sunday, January 20, 2013

Prosedur pemasangan kondom kateter


 Pengertian
          Kondom kateter adalah alat drainase urine eksternal yang mudah untuk digunakan dan aman untuk mengalirkan urine pada klien pria.kondom kateter ini lunak,berupa selaput karet yang lembut yang disarungkan ke penis,dan cocok untuk klien inkontinensia atau koma yang masih mampunyai kemampuan mengosongkan kandung kemih spontan dan komplit.kateter ini mungkin tersedia dalam jenis indwelling (foley) karena drinase dipertahankan dengan sedikit risiko terhadap infeksi.

2.     EtiologiInvasi bakteri                                                                       
      Adanya kateter indwelling dalam traktus urinarius dapat menimbulkan infeksi.Kolonisasi bakteri (bakteriuria) akan terjadi dalam 2 minggu pada separuh dari pasien-pasien yang menggunakan kateter urin,dan dalam waktu 4 sampai 6 minggu sesudah pemasangan kateter pada hampir semua pasien meskipun rekomendasi untuk pengendalian infeksi dan perawatan kateter sudah dilakukan dengan cermat.

3.    Klasifikasi
     Tipe kateter yang dipakai untuk mengusahakan drainase pada terjadinya obstruksi tergantung kepada lokasi dan sumbatan. Jenis-jenis kateter :
·         Catheter Whistle-tip
·         Catheter Robinson bermata banyak
·         Catheter Foley
·         Catheter Coude
Cateter foley lebih banyak di pakai karena mudah untuk dipasang dalam waktu lama guna drainase terus menerus. Kateter Foley berllumlen dua yang dilengkapi balon pada ujung distal. (Sumber Perawatan Medikal Bedah Barbara C.Long)

4.    Patofisiologi

prosedur pemasangan kondom kateter
5.    Tanda dan gejala
     Pada pasien yang menggunaka kateter indwelling harus diobservasi untuk mendeteksi adanya tanda-tanda dan gejala infeksi traktus urinariusyang berupa :
1.    Urin yang keruh
2.    Hematuria
3.    Panas
4.    Menggigil
5.    Anoreksia
6.    Malaise
( Sumber : Keperawatan Medikal-Bedah Brunner dan Suddarth )
6  Prosedur Diagnostik
 Prosedur diagnostik harus mancakup evaluasi faal ginjal. Dapat dilakukan melalui urinalisis, kultur urin, elektrolit urin, urea nitrogen darah, kreatinin serumdan kratinin clearance.
   Sebelum kateterisasi harus berkonsultasi dulu kepada dokter tentang drainase air kemih selanjutnya. Bila diduga terdapat jumlah besar dari urin residu, biasanya dokter memasangkan kateter dauer. Untuk mencegah tidak terjangkaunya volume urin residu oleh kateter, perlu dilaksakan potret x-ray air kencing residu. Tiap urin yang bertahan pada kandung kemih akan dapat divisualisasi pada radiografi. Ini berarti bahwa penentuan jumlah volume urin residu diperlukan dengna berkaitan visualisasi studi saluran kemih dari saluran kemih.
   Pemeriksaan cystometric dilaksanakan untuk evaluasi tonus kandung kemih. Pada umumnya pemeriksaan dilakukan bila terjadi inkontinen atau bila ditemukan data bahwa terjadi disfungsi kandung kemih yang neurologik.Prosedur pemasangan kondom kateter:
a.            Persiapan pasien:
·               Mengucapkan salam terapeutik
·               Memperkenalkan diri
·               Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan tindakan yang akan dilaksanakan.
·               Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya
·               Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistematis serta tidak mengancam.
·               Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi
·               Privasi klien selama komunikasi dihargai.
·               Memperlihatkan kesabaran , penuh empati, sopan, dan perhatian serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan
·               Membuat kontrak (waktu, tempat dan tindakan yang akan dilakukan)
b.            Persiapan alat:
·         Selaput kondom karet.
·         Strip elastik atau perekat velcro.
·         Kantung penampung urine dengan selang drainase.
·         Basin dengan air hangat dan sabun.
·         Handuk dan waslap.
·         Selimut mandi.
·         Sarung tangan sekali pakai.
·         Gunting.
c.            Prosedur
·               Pasien diberi penjelasan tentang prosedur yang akan dilakukan, kemudian alat-alat didekatkan ke klien
·                Pasang sampiran.
·               Cuci tangan.
·               gunakan sarung tangan steril.
·               Posisikan klien pada posisi terlentang.letakan selimut diatas dan tutup ekstremitas bawahnya dengan selimut mandi sehingga hanya genetalia yang terbuka.
·               Bersihkan genetalia dengan sabun dan air lalu keingkan.
·               Siapkan drainase kantung urine dengan menggantungnya ke kerangka tempat tidur.bawa selang drainase kesisi tempat tidur.
·               Dengan tangan non-dominan genggam penis klien dengan kuat sepanjang batangnya.dengan tangan dominan,pegang kantung kondom pada ujung penis dan denan perlahan pasangkan pada batang penis.
·               Sisakan 2,5 sampai 5 cm (1 sampi 2 inci) ruang antara glans penis dan ujung kondom kateter.
·               Lilitkan batang penil dengan strip velcro atau perekat elastik.pasang dengan pas tetapi tidak ketat.
·               Hubungkan selang drainase pada ujung kondom kateter.
·               Letakan kelebihan gulungan selang ditempat tidur dan ikatkan dengan peniti pada dasar linen tempat tidur.
·               Posisikan klien pada posisi yang nyaman.
·               Buang peralatan yang basah,lepas sarung tangan,dan cuci tangan.
·               Catat kapan kondom kateter dipasang dan adanya urine pada kantung drainase.(sumber:keterampilan dan prosedur dasar,perry.potter)
·                
7.Kompliksi
Adanya kateter dalam traktus urinarius dapat menimbulkan komplikasi atau infeksi. Kolonisasi bakteri (bakteriuria) akan terjadi dalam waktu 2minggu pada separuh dari pasien-pasien yang menggunakan kateter urin, dan dalam waktu 4-6 minggu sesudah pemasangan kateter pada hampir semua pasien meskipun rekomendasikan untuk pengendalian infeksi dan perawatan kateter telah diikuti dengan cermat. Mikroorganisme patogen yang menyebabkan infeksi traktus urinarius yang verkaitan dengan kateter mencakup: Escherichia coli, Klebsiella, Proteus, Pseudomonas, Enterobacter, Serratia dan Candida. Mikroorganisasi ini merupakan bagian dari flora endogenus atau flora usus normal, atau didapat melalui kontaminasi-silang oleh pasien atau petugas rymah sakit atau melalui kontak dengan peralatan yang tidak steril. Komplikasi lain yang dapat timbul akibat pemasangan kateterisasi yaitu:
·    Alergi atau sensitivitas terhadap lateks
·    Batu kandung kemih
·    Infeksi darah (septicaemia)
·     Darah dalam urin (hematuria)
· Kerusakan ginjal (biasanya hanya dengan jangka panjang, gunakan kateter berdiamnya)
·    Uretra cedera
·   Saluran kencing atau infeksi ginjal

      8.Terapi dan Panatalaksanaan Keperawatan.
 Latihan kembali kandung kemih:
·            Menentukan pola waktu biasanya klien berkemih.
·            Merencanakan waktu toileting,jadwal berdasarkan pola dari klien,bantu seperlunya.
·            Bila tidak dapat dibuat pola berkemih,rencanakan waktu ke toilet 1-2 jam sekali.
·            Mengusahakan agar pasien berposisi normal pada waktu berkemih.
·            Mengusahakan  agar klien mengosongkan kandung kencing sesempurna mungkin.
·         Mengusahakan agar inteke cairan 3000ml/hari demi memenuhi volume urine yang adekuat.
·            Membuat jadwal agar cairan diminum sebelum jm 16.00
·            .
9.    Askep
a.    Pengkajian
Obserpasi daerah sekitar orifisium uretra dilakukan untuk mengamati drainase dan ekskoriasi.pemeriksaan kultur merupakan cara yang paling adekuat untuk mengkaji kemungkinan infeksi. Warna, bau, dan volume urine juga harus dipantau. Pengkajian sistem dreinase dilakukan untuk memastikan bahwa sistem tersebut menghasilkan drainase urin yang adekuat. Kondidi kateter sendiri harus diobservasi untuk memastikan agar kateter tersebut terpasang dan terfiksasi dengan baik sehingga tidak terjadi penekanan uretra pada sambungan penoskrotal pasien laki-laki, dan tidak menimbulkan tekanan serta regangan pada kandung kemih pasien laki-laki.
b.    Diangnosa Keperawatan
·         Resiko tinggi terhadap infeksi b.d prosedur invasif/alat
·         Resiko tinggi terhadap/kerusakan integritas kulit aktual.
c.    Perencanaan:
·         Tujuan
ü  . pasien tidak mengalami tanda/gejala infeksi.
·         Rencana Tindakan
ü  Berikan perawatan keteter rutin dan tingkatkan perawatan perinial. Pertahankan sistem drainase urin tertutup dan lepaskan kateter tak menetap sesegera mungkin.
·         Implementasi
d.    Evaluasi

Daftar pustaka
·         Potter, perry. Keterampilan dan prosedur dasar,edisi 3,jakarta:EGC,2000
·         Suddart, brunner. Keperawatan medikal-bedah,edisi 8,jakarta:EGC,2001
·           Doenges, E Marilynn. Rencana Asuhan Keperawatan, edisi 3, Jakarta: EGC, 1999

No comments:

Post a Comment

Anatomi Fisiologi Reproduksi Wanita

Sistem reproduksi manusia baik pria maupun wanita memiliki struktur organ internal dan eksternalnya masing- masing. Setiap organ dalam sist...