Saturday, January 12, 2013

ASKEP ILEUS OBSTRUKTIF


Pengertian
Kerusakan parsial atau komplet aliran ke arah depan dari isi usus disebut obstruksi usus. Kebanyakan obstruksi usus terjadi di usus halus khususnya ileum, karena termasuk segmen paling sempit.( Monica Ester )
Etiologi
Ileus obstruktif yaitu terganggunya intestinal secara fisik dikarenakan keadaan-keadaan seperti :
·         Perlengketan
·         Hernia
·         Neoplasma
·         Penyakit peradangan usus
·         Benda asing dan batu empedu
·         Fecal impaction
·         Stricture : congenital dan radiasi
·         Intusepsi (biasa pada bayi dan balita)
·         Volvulus ( biasa pada manula )
( Hotma Romahorbo )

 Faktor Resiko
  Permasalahan ini tergantung pada bagian mana yang tersumbat . Bila obstruksi terjadi pada bagian atas usus kecil maka akan mengakibatkan kehilangan Gastric Hydrocloride yang kelak akan menjadi Metabolic alkalosis. Kemudian bila obstruksi terjadi pada bagian bawah duodenum bagian atas usus besar , maka akan mengalami gangguan keseimbangan asam lambung. Namun bila obstruksi ini terjadi pada bagian bawah usus kecil, maka akan kehilangan cairan alkaline yang kelak akan menyebabkan Metabolic asidosis.( Suzzane, smelzer )
            Komplikasi
·         Hypovolemia berat akibat dari insufiensi ginjal.
·         Peritonitis tanpa atau dengan perforasi akibat berkembangbiaknya bakteri, peredaran darah disekitar itu akan terganggu , terhenti, necrose perforasi.
·         Sepsishcol akibat endotoxin dari bakteri sehingga endotoxin masuk ke peredaran darah sistemik dan limpatik.
·         Anemia berat karena kehilangan darah di daerah intestinal dan peritoneum.
( Hotma Romahorbo )

Patofisiologi
 Pada saat intestinal tidak mampu mengabsorpsi dan mendorong isi ke bagian bawah saluran cerna, maka pada daerah tersebut akan mengalami distensi. Pada keadaan demikian, maka intestinal berupaya mendorong isi ke bagian bawah sehingga terjadi peristaltik usus yang berlebihan. Kemudian oleh karena peristaltik usus yang berlebihan tersebut maka akan merangsang sekresi intestinal yang berlebihan sehingga terjadilah distensi.Hal ini akan menyebabkan oedema pada daerah bowel dengan meningkatnya permeabilitas kapiler, lalu plasma masuk ke dalam cavum peritoneal sehingga cairan terjebak dalam lumen intestinal akhirnya terjadi penurunan absorpsi cairan elektrolit di dalam vaskuler( Hotma Romarhobo )

Tanda dan Gejala
Tanda yang khas terjadi pada pasien adalah ketidakseimbangan elektrolit dan penurunan volume darah. Pada saat kondisi demikian maka potensial terjadi Shock Hypovolemic sangat besar mulai dari tingkat ringan sampai berat.(Suzzane, smeltzer )

B.ASKEP
ASKEP PASIEN DENGAN ILEUS OBSTRUKTIF
Pengkajian
           Riwayat
ü  Faktor-faktor yang mungkin terjadi obstruksi
ü  Penggunaan obat yang lalu dan sekarang masih digunakan (serta kaji waktu, diagnosa, pengobatan).
ü  Cari informasi yang spesifik tentang : operasi obdamen,terapis radiasi,penyakit chorn, ulserative colitis, diverticullitis, batu empedu, hernia, dan tumor).
ü  Kebiasaan dietary, hal ini untuk mengkaji keaadan yang terjadi akhir-akhir ini seperti mual, muntah, dan pola BB
ü  Kaji kesehatan keluarga tentang riwayat kanker kolorektal, keadaan darah dalam feses, atau terjadinya perubahan pola BAB.
     Pengkajian Fisik
   Pengkajian fisik ini dilakukan pada saat pasien dalam keadaan tenang,sehingga hasil yang didapatkan lebih akurat. Adapun metode yang akan digunakan adalah inspeksi, palpasi, auskultasi, dan perkusi; dilakukan secara berurutan dan sistematis (head to toe). Namun, selain pengkajian fisik secara umum, terdapat pula pengkajian fisik yang bersifat focusing atau daa focus, antara lain :
            Inspeksi
1)    Pada abdomen akan terlihat : tegang, kulit mengkilap, dan bila semakin distensi maka umbilikal akan tampak muncul.
2)   Nousea – vomiting :
ü  Konsistensi, tergantung pada lokasi terjadinya obstruksi :
v  Ileum bagian atas ; keadaan muntah menyemprot dan bersi makan yang telah dicerana, tetapi bila lambung kosong hanya cairan, mukus, dan air yang keluar.
v  Ileum bagian bawah : tidak ada muntah. Dalam keadaan demikian katup Ileucecal mencoba untuk mencegah terjadinya regurgitasi.
ü  Warna dan bau menyengat ke rena hasil pembusukan bakteri di bagian proxima atau karena terkontaminasi dengan fecal.
ü  Nafas berbau busuk akibat pembusukan oleh bakteri.
ü  Obstruksi pada obstruksi total usul kecil.
Palpasi
ü  Bagian atas (proxima) usus kecil ; nyeri tekan dan nyeri lepas.
ü  Bagian tengah dan distal usus kecil : nyeri yang bersifat periodik dan periumbilikal terkadang kram.
ü  Bagian bowel : nyeri perut dan atau kram
Pada keadaan ini ( nyeri dan kram) perlu divaliadasi melalui pertanyaan kapan timbul dan hilangnya , bila saat bagaimana hilang dan timbul, serta perlu pula ditanyakan kualitas nyeri skala PQRST.
Auskultasi
Gelombang peristaltik pada daerah proximal terdengar keras (borbrygmi), bunyi ini biasanya mengawali proses obstruksi. Bila sudah terjadi obstruksi, maka bisisng ususu tidak akan terdengar lagi khususnya pada daerah distal. Pada keadaan ini akan segera terjadi distensi.
Parkusi
Jari telunjuk (jari tangan) yang biasa digunakan untuk melakukan perkusi pada daerah abdomen. Biasanya akan terdengar suara Dullnes atau suara redup bila terjadi (cairan atau gas).

a.    Pengkajian Psikologis
Perawat perli mengkaji reaksi yang tejadi dari aspek psikologis pasien tentang cemas dan takut. Cemas karena obstruki dan pelaksanaan pemeriksaan dan diagnosa. Sedangkan rasa takut timbul terhadap nyeri, kram, distensi dan muntah.
      Tim kesehatan biasaanya tidak segera mengetahui keadaan demikian. Oleh karena itu, maka perawat harus peka mengetahui hal ini dengan menggunakan [ertanyaan yang dapat mengali perasaan pasien dan dapat dituangkan dalam bentuk verbalis.

b.    Data Penunjang
1)    Laboraturium
Tidak ada test Laboraturim yang dapat dengan tepat mendukung diagnosa obstruksi . Biasanya nilai sel darah putih (WBC) dalam keadan batas normal. Kalau saja terjadinya peninggian hal ini disebabkan oleh keadan lain (infeksi). Namun demikian perawat perlu mengkaji data laboraturium untuk petunjuk indikasi daerah terjadinya obstruksi.
ü  Bagian atas (proximal) usus kecil dapat memperlihatkan  peninggian kadar konsentrasi CO2 di dalam serum dalam keadaan Metabolie alkalosis.
ü  Bagian bawah (distal) usus besar memperlihatkan konsentrasi CO2 dalam serum rendah pada keadaan Metabolie Aeidesis.
2)   Radiographic
ü  Segera melakukan pemerikasaan secara X-ray bagian abdomen : tegak dan melintang
ü  Distensi : terlihat cairan pada daerah small intestine dan gas pada daerah large intesitine.
ü  Perlu diingat, bila dalam pemerikasaan terdapat uadara bebas pad cavum intestine hati-hati terjadinya perforasi.
3)   Lain-lain
ü  Andoscopy (sigmoidescopy atau colonoscopy)
ü  Barium enema study

Rumusan Diagnosa Keperawatan
1)    Perubahan perfusi intestinal sehubungan dengan dampak obstruksi.
2)   Kekurangan volume cairan sehubungan dengan :
ü  Penurunan reabsorsi
ü  Kehilangan sekresi
ü  Muntah
3)   Nyeri sehubungan dengan distensi abdomen dan peristaltik yang meningkat.
4)   Potensial terjadi infeksi sehubungan dengan :
ü  Perkembangan bakteri berlebihan
ü  Perforasi
5)   Pola nafas yang tidak efektif sehubungan dengan distensi abdomen.
6)   Penurunan nutrisi : kuarang dari kebutuhan tubuh sehubungan dengan muntah.
7)   Penurunan CD sehubungan dengan :
ü  Penurunan volume darah
ü  Terganggunya aliran vena-arteri bowel .
8)   Intoleransi aktivitas sehubungan dengan :
ü  Ketidak seimbangan caiaran elektrolit.
ü  Ketidaknyamanan.

Perencanaan Keperawatan
1.     Kolaborasi untuk pemasangan tube testinal :
a.    Pemasangan Nasointestine Tube (NIT), peerhatikan :
ü  Uabh posisi tiap 2 jam.
ü  Monitoring aliran cairan intestine secara gravitasi
ü  Masukkan udara 10 cc bila aliran tidak lancar (jangan pake air jika tidak ada advice dari dokter)
ü  Lakukan suction dengann hati-hati ; menggunakan suction lumen tunggal
ü  Berikan catatan di tempat tidur dan status pasien tentang penggunaan mercury
b.    Pemasangan Nasogasstric Tube (NGT), perhatikan
ü  Monitor pasien setiap 4 jam , kemudian kaji tentang keadaan posisi NGT, pengeluaran cairan gasstrik, serta integritas kulit di sekitar penekanan NGT.
ü  Dengar peristaltik usus pada saat tidak dilakuakan suction

Puasakan pasien
2.    Kolaborasi pemberian cairan dan nutrisi per perenteral.
ü  Evaluasi jumlah dan jenis platus setiap hari
ü  Kaji keadaan nause, vomiting, distensi abdomen, dan poisiss NGT.
3.    Monitor adanya kemungkian komplikasi
4.    Pertahanka posisi pasien semi fowler
5.    Kolaborasi tindakan pembedahan.

Pembedahan
a.    Pre – operasi
ü  Diskusi rencana ini dengan pasien
ü  Bila masih memungkinkan pasang NIT/NGT
ü  Lakuakan suction dengan hati-hati
ü  Kaji kemampuan pasien untuk perawatan mandiri
b.    Prosedur operasi
ü  Perlengkapan dilakukan laparatomy
ü  Tumor dilakukan colostomy permanen/ tempere
ü  Fecal empection dilakukan embolectomy
ü  Ganggraen dilakukan pengangkatan sebagian
c.    Post – operasi
ü  Pasangan NGT sampai timbul peristaltik yang efektif
ü  Berikan pendidikan kesehatan tentang prinsip-prinsip perawatan luka secara umum dan mencegah agar tidak kembali tejadi (bila fecal impaction) un tuk di rumah sakit maupun di rumah kembali pulang.
DX.2
Intervensi  keperawatan yang dapat diberikan :
ü  Pemberian cairan elektrolit dengan potasium per IV.
ü  Pemberian darah bila diperlukan
ü  Monitor TPRS, intake – out cairan , turgor kulit, dan oedema.
ü  Bantu pasien dalam pemenhan nitrisi, serta jelaskan jenis diet yang perlu dikonsumsi.
ü  Bersihkan daerah mulut dan mukosa agar tetap lembab dan bersih.
ü  Tidak memberikan glicerine dan kembang es untuk melembabkan bibr kering.
DX.3
ü  Kaji kualitas dan lokasi nyeri secara kontinue
ü  Lapor segera bila nyeri berubah menjadi kolik yang menetap.
ü  Jelaskan apada pasien dan keluarga agar tidak menggunakan obat anlgetik untuk mengurangi nyeri.
ü  Monitor timbul side effect daripada demetrol ; biasanya timbul mual dan muntah.
ü  Pertahanakan poisisin pasien dengan semi fowler dan kaji kaji Kemungkinan terjadinya sesak akibat distensi.
ü  Bersihkan sekresi yang terdapat di sekitar lubang hidung (bila terpasang NGT – NIT) & beri pelumas     ( Hotma Romarhobo )

Evaluasi
      Bagi seluruh pasien yang akan kembali ke rumah sebaiknya dipersiapkan dengan baik melalui pendidikan kesehatn , antara lain :
1.     Perawatan di rumah tergantung pada penyebab obstruksi dan tipe pengobatan yang diberikan selama di rumah sakit.
Non – pembedahan
Perawatan perlu mengkaji kemampuan pasien untuk perawatan mandiri di rumah, dan mengubah cara hidup yang baik bila terjadi fecal impaction. 
Pembedahan
Kaji kemampuan pasien untuk dapat berfungsi sebagaimana mestinya,bila terpasang colostomy permanen maka pasien diharapkan dapat menolong dirinya sendiri dengan bantuan minimal dariorang lain.
2.    Pemberian Pendidikan kesehatan
ü  Ingatkan pasien untuk segera datang ke rumah sakit bila terdapat nyeri abdomen, distensi, nausea, vomiting, konstipasi, atau fecal impaction (manula) agar dapat pertolonagn segera. Serta pasien dan keluarga perlu mengubah cara hidup yang benar untuk mencegah terjadinya obstruksi ulang.
ü  Jelaskan untuk mengkonsumsi mkan tinggi serat , rendah lemak, olah raga yang teratur, serta minum air yang cukup jika tidak ada kontra indikasi.
ü   Biasanya doktermemberikan resep Laxative agar tetap mempertahankan  pola eliminasi yang teratur
ü  Ajarkan pasien dan keluarga tentang prinsip – prinsip perawatan  luka, penggunan obat dan melakukan aktifitas yang sesuai.
1.     Prinsip Psikososial
Tergantung pada faktor penyebab dan pengobatan yang diberikan di rumah sakit, sehingga kecemasaan dan rasa takut akan berkurang di masa mendatang .
Sumber – sumber / tempat kesehatan kegunaan untuk follow-up, ini pun tergantung pada sebab dan tipe tindakan yang diberikan di rumah sakit. Bila penyebabnya fecal impaction maka perawatan di rumah cukup dengan memanggil tim kesehatan yang terdekat. Tetapi bila pasien dengan polostomy permanen maka sebaiknya pasien meminta agar ada perawat yang home visite. ( Hotma Romarhobo )

 DAFTAR PUSTAKA
Smelter, Suzzane c. (2001) Buku ajar Keperawatan Medical Bedah- Brunner & Suddart. Alih bahasa : Agung Waluyo.Edisi:8 .Jakarta.EGC
Monica, Ester .(2001) Keperawatan Medical Bedah. Jakarta : EGC.
Hotma homarhobo, 1997. Guru dan Dosen Lingkungan Pendidikan .Bandung
Doenges, Marlyn. dkk. 2000. Rencana Asuhan Keperawatan. EGC : Jakarta Ramali,
Ahmad. 2005. Kamus Kedokteran. Djambatan : Jakarta
Hinchliff, Sue. 1999. Kamus Keperawatan. EGC : Jakarta


No comments:

Post a Comment

Anatomi Fisiologi Reproduksi Wanita

Sistem reproduksi manusia baik pria maupun wanita memiliki struktur organ internal dan eksternalnya masing- masing. Setiap organ dalam sist...