Thursday, September 6, 2012

ASKEP KOLITIS ULSERATIF


ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN KOLITIS ULSERATIF

1.    PENGERTIAN
Kolitis ulseratif adalah kondisi kronis yang tidak diketahui penyebabnya biasanya dimulai pada rectum dan bagian distal kolon dan mungkin menyebar keatas dan melibatkan sigmoid dan kolon desenden atau seluruh kolon. Ini biasanya hilang timbul (akut eksaserbasi dengan remisi panjang), tetapi beberapa individu (30%-40%) mengalami gejala terus menerus. (Marilynn E. Doenges. Edisi 3. Hal:471)
Kolitis ulseratif dan penyakit Crohn (enteritis regional) merupakan ganguan-gangguan peradangan nonspesifik kronis pada usus. Gangguan tersebut seringkali menyerupai satu dengan lainnya tetapi berbeda penggolongannya. Gangguan-gangguan tersebut bias menjadi parah dengan adanya stress. (Barbara C. Long. 3. Hal: 230)
Ulcerative Colitis is a chronic inflammatory process of the bowel that can result in poor absorption of vital nutrient. (Medical Surgical Nursing. 2nd Edition. Page: 1638)

2.    PATOFISIOLOGI
Kolitis ulseratif dimulai dalam kolon rektosigmoid dan meluas kearah atas. Lesi pada colitis ulseratif merupakan ulserasi mukosa yang mudah berdarah. Seiring perkembangan Lesi, mukosa usus menjadi bengkak dan menebal dengan pembentukan jaringan parut. Kolon dapat kehilangan elastisitas dan kemampuan absorptifnya. Hilangnya kemampuan absorptive pada colitis ulseratif maupun penyakit Crohn menimbulkan anorexia, penurunan berat badan, malaise dan diare.

PERBANDINGAN ANTARA KOLITIS ULSERATIF DENGAN CROHN DISEASE 
FEATURE
KOLITIS ULSERATIF
CROHN DISEASE
Penampilan umum
Dapat merasa dan terlihat sakit
Biasanya normal
Usia
15-35 tahun
20-30 ahun dan 40-50 tahun
Daerah yang terserang
Hanya kolon, dimulai pada kolon descenden (sebelah kiri)
Rata-rata pada ileum, sekum dan kolon asenden (sebelah kanan)
Tingkat penyebaran
Merambat, daerah yang terkena meluas
Daerah-daerah yang terkena segmental
Peradangan
Paling sering mukosa
Paling sering sub mukosa
Penampilan Mukosa
Ulserasi
Efek Cobblestone, granuloma
Potensial kanker
Insidensi meningkat
Indikasi normal
Karakteristik kotoran
Terdapat darah, tidak ada lemak, sering BAB cair
Tidak ada darah, mungkin terdapat sedikit lemak, 3-4xperhari agar lembek
Alasan pembedahan
Respons kurang terhadap terapi medis, perdarahan, perforasi
Fistula, obtruksi usus
Komplikasii
Pseudopolyp, perdarahan, toxic megacolon,kaheksia, perforasi tidak sering menyebabkan peritonitis, hemorrhsge, defisiensi nutrisi
Fistula, penyakit perional, striktur, defisiensi vitamin dan besi, fistula terhadap organ lain
Etiologi
Tidak diketahui
Tidak diketahui

3.    KOMPLIKASI
Komplikasi pada colitis ulseratif diantaranya:
    1. Hemorrhage
    2. Abscess ormation
    3. Toxic megacolon
    4. Malabsorptioan
    5. Obstruksi usus (bowel obstruction)
    6. Perforasi usus dengan fistula dan peritonitis
    7. kanker usus
    8. Arthritis
4.    INSIDENSI/PREVALENSI
The annual incidence of ulceratif colitis is approximately two to seven new cases per 100.000 persons. The prevalence is 40 to 100 cases per 100.000 people in the United States.

5.   TANDA DAN GEJALA
Tanda: takikardi, kemerahan area ekimosis (kurang vit. K), hipotensi, turgor buruk, lidah pecah-pecah, depresi, menolak, perhatian menyempit, menurunnya bising usus, tak ada peristaltic atau adanya peristaltic yang dapat dilihat, hemorrhoid, fisura anal, fistula perianal, oliguria, penurunan lemak masa otot, kelemahan tonus otot, membrane mukosa pucat, inflamasi rongga mulut, stomatitis, bau badan, nyeri tekan abdomen, eritema nodusum meningkat pada tangan, muka pioderma gangrenosa pada paha, kaki dan mata kaki, ankilosa spondilitis, uveitis, konjungtivitis, ketidakmampuan aktif dalam social

Gejala: kelemahan, kelelahan, malaise, cepat lelah, insomnia, ansietas, ketakutan, emosi kesal, tekstur fese bervariasi dari lunak, bau sampai cair, perdarahan perrektal, riwayat batu ginjal, anoreksia, mual, muntah, penurunan BB, nyeri tekan pada kuadran kiri bawah, titik nyeri berpindah, nyeri mata, fotophobia, riwayat lupus eritematosus, anemia hemolitik, vaskulitis, peningkatan suhu 39,6-40derajat C, penglihatan kabur, alergi terhadap makanan produk susu, frekuensi menurun menghindari aktifitas seksual, riwayat keluarga berpenyakit inflamasi usus.

6.    PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK DAN LABORATORIUM
Penyakit peradangan usus didiagnosa dengan melihat hasil-hasil radiograf, sigmoidoskopi/kolonoskopi dan biopsi. Tes-tes laboratorium dan penunjang lainnya dilakukan untuk melihat adanya anemia dan adanya darah dalam kotoran.
1.      Contoh feses, untuk diagnosa awal terutama yang mengandung darah, mukosa, pus dan organisme usus, khususnya Entamoeba histolytica.
2.      Proktosigmoidoskopi, memperlihatkan ulkus, edema, hyperemia, dan inflamasi.
3.      Radiograf, membantu untuk mengidentifikasi lesi-lesi pada gangguan-gangguan peradangan usus kronis disamping juga adanya komplikasi seperti fistula, striker, polip, megakolon atau perforasi.
4.      Sitologi dan biopsy rectal, membedakan antara proses infeksi dan karsinoma serta karakter infiltrate inflamasi yang disebut abses lapisan bawah.
5.      Kolonoskopi, mengidentifikasi adesi, perubahan lumen dinding, menunjukan obstruksi usus,
6.      Darah lengkap, menunjukan anemia hiperkromik, leukositosis.
7.      Kadar besi serum, rendah karena kehilangan darah.
8.      Masa prothrombin
9.      ESR
10.  Thrombositosis
11.  Elektrolit
12.  Kadar albumin
13.  alkalin fosfatase
14.  Sumsum tulang.

6.    NURSING PROCESS
6,1 ASSESMENT
     - Subjective
       Pengertian pasien mengenai gangguan tersebut, pola eliminasi, nyeri, satus nutrisi, tidur, stress, hubungan social, sexual, obat-obatan yang digunakan di rumah.
     - Objective
       Berat badan, temperature, pola makan yang dapat diamati, tanda-tanda dehidrasi, kotoran, kondisi kulit perianal, perilaku
-    Diagnostic Test
-    Physical Assessment
Kaji daerah abdomen di tiap kuadran, dan perhatikan bising usus pasien. Palpasi area yang menjadi keluhan pasien dan auskultasi. Kaji juga karakteristik feses klien, dari warna, konsistensi, dan bau.
-    Psychosocial Assessment
Perawat mengevaluasi pemahaman klien tentang penyakitnya dan gaya hidup yang mendukung sebelum masuk rumah sakit. Kaji hubungan relasi dalam lingkungan social, relasi kerja, riwayat merokok, alcohol dan frekuensinya, dukungan keluarga dan social serta riwayat diare yang berkepanjangan.
6.2 ANALYSIS
     1. Diarrhea related to inflammation of the bowel mucosa.(diare b.d inflamasi pada mukosa usus)        
      2. Pain related to inflammation of the bowel mucosa.(nyeri b.d inflamasi pada mukosa usus).
      3. Less than body requirements related to diarrhea and malabsorption.(kurang dari kebutuhan tubuh b.d diare dan malabsorpsi)
      4. Fluid volume deficit related to diarrhea. ( Kekurangan volume cairan b.d diare)
      5. Body image disturbance related to change in body function.
6. High risk for impaired skin integrity related to fissure, fistula and skin irritation   from frequent stools.(resiko tinggi kerusakan integritas kulit b.d fisura,fistula dan iritasi kulit dari seringnya BAB)
7. Activity intolerance related to generalized weakness.(intoleran aktivitas b.d kelemahan umum)
8. Altered health maintenance related to knowledge deficit about the disease process. (perubahan pemeliharaan kesehatan b.d kurang pengetahuan tentang proses penyakit)
9.Ineffective individual coping related to physical illness and hospitalization.( Koping individual tidak efektif b.d  penyakit fisik dan hospitalisasi).
10. Ansietas b.d factor psikologis atau rangsang simpatis.
6.3 PRIORITAS KEPERAWATAN
Ø  Mengontrol diare atau meningkatkan fungsi usus optimal.
Ø  Meminimalkan atau mencegah komplikasi.
Ø  Meminimalkan stress menatal atau emosi.
Ø  Memberikan informasi tentang proses penyakit, kebutuhan pengobatan dan aspek jangka panjang atau potensial komplikasi berulangnya penyakit.

6.4INTERVENTION
1. Diarrhea related to inflammation of the bowel mucosa.(diare b.d inflamasi pada mukosa usus)
- Observasi dan catat frekuensi deekasi, karakteristik, jumlah dan factor pencetus
- Tingkatkan tirah baring, berikan alat-alat disamping tempat tidur
- Mulai lagi pemasukan cairan peroral secara bertahap.
- Hindari minuman dingin.
- Observasi demam, takikardi, letargi, leukositosis, penurunan protein serum, ansietas, kelesuan.
- Kolaborasi obat antikolinergik=belladonna,tinktur,atropine,difenoleksilat
- Enema dengan atau tanpa supositoria    
     2. Pain related to inflammation of the bowel mucosa.(nyeri b.d inflamasi pada mukosa usus).
     - Kaji laporan kram abdomen atau nyeri, catat lokasi, lamanya, intensitas (skala 0-10)
     - Anjurkan posisi nyaman pasien, missal dengan lutut fleksi.
     - Observasi adanya isiorektal dan fistula perianal.
     - Observasi atau catat distensi abdomen, penungkatan suhu dan penurunan TD
     - Modifikasi diet dengan makanan padat
     - Kolaborasi obat analgesic, antikolinergik, anodin supositoria
3. Less than body requirements related to diarrhea and malabsorption.(kurang dari kebutuhan tubuh b.d diare dan malabsorpsi)
- Dorong tirah baring atau pembatasan aktivitas selama fase akut
- Anjurkan istirahat sebelum makan
- Berikan kebersihan oral
- Sediakan makanan dengan ventilasi yang baik, lingkungan menyenangkan, dengan situasi tidak terburu-buru.
- Batasi makanan yang dapat menyebabkan kram abdomen.
- Catat masukan dan perubahan simtomatologi
- Pertahankan puasa sesuai indikasi
- Anjurkan diet cair jernih
- Kolaborasi obat donnatal,natrium barbital, imeron inj
- Kolaborasi vitamin B12
- Kolaborasi pemberian asam folat (folvite)
- Berikan nutrisi parenteral total, terapi IV sesuai indikasi
     4. Fluid volume deficit related to diarrhea. ( Kekurangan volume cairan b.d diare)
     - Awasi masukan dan keluaran
- Observasi oliguria
- Kaji TTV
- Observasi integritas kulit dan membrane mukosa
- ukur berat badan setiap hari
- Tirah baring, pembatasan kerja
- Observasi perdarahan dan tes fese tiap hari untuk adanya darah samara.
- Catat kelemahan otot umum dan disritmia jantung
- Berikan cairan parenteral, transfuse darah sesuai indikasi
- Awasi hasil lab elektrolit dan GDA
- Kolaborasi obat antidiare, antiemetik, antipiretik
- Kolaborasi pemberian vitamin K (mephyton)
     5. Body image disturbance related to change in body function.
6. High risk for impaired skin integrity related to fissure, fistula and skin irritation   from frequent stools.(resiko tinggi kerusakan integritas kulit b.d fisura,fistula dan iritasi kulit dari seringnya BAB)
7. Activity intolerance related to generalized weakness.(intoleran aktivitas b.d kelemahan umum)
8. Altered health maintenance related to knowledge deficit about the disease process. (perubahan pemeliharaan kesehatan b.d kurang pengetahuan tentang proses penyakit)
- Tentukan persepsi pasien tentang proses penyakit
- Kaji ulang obat, tujuan, frekuensi, dosis, dan kemungkinan efek samping.
- Ingatkan pasien untuk mengobservasi efek samping bila steroid diberikan dalam jangka panjang.
- Tekankan pentingnya perawatan kulit.
- Anjurkan menghentikan rokok
- Penuhi kebutuhan evaluasi jangka panjang dan evaluasi ulang periodic
- Rujuk ke sumber komunitas yang tepat/
9.Ineffective individual coping related to physical illness and hospitalization.( Koping individual tidak efektif b.d  penyakit fisik dan hospitalisasi).
-Kaji pemahaman pasien/ orang terdekat dan metode sebelumnya dalam menerima proses penyakit
- Tentukan stress luar, mis. Keluarga, teman, lingkungan kerja, social
-Berikan pada pasien untuk mendiskusikan bagaimana penyakit telah mempengaruhi hubungan, termasuk masalah seksual
- Bantu pasien mengidentifikasi keterampilan koping efektif secara individu
- Berikan dukungan emosi: mendengarkan dengan aktif, pertahankan bahasa tubuh, tugaskan staf yang sama sebanyak mungkin.
- Berikan periode tidur tanpa gangguan
- Dorong penggunaan keterampilan menangani stress
- Kolaborasi obat sesuai indikasi antipsikosi, mis. Tioridazin, agen antiansietas, lorazepam, alprazolam.
- Rujuk ke sumber sesai indikasi
10. Ansietas b.d factor psikologis atau rangsang simpatis.
- Catat penunjuk perilaku, mis. Gelisah, peka rangsang, menolak, kurang kontak mata, perilaku menarik perhatian.
- Dorong menyatakan perasaan. Berikan umpan balik
- Akui bahwa ansietas dan masalah mirip dengan yang diekspresikan orang lain. Tingkatkan perhatian mendengarkan pasien.
- Berikan informasi yang akurat dan nyata tentang apa yang dilakukan, mis. Tirah baring, pembatasan masukan per oral, dan prosedur.
- Berikan lingkungan tenang dan istirahat
- Bantu pasien untuk mengidentifikasi/memerlukan perilaku koping yang digunakan masa lalu
- Bantu pasien belajar mekanisme koping baru, mis. Teknik mengatasi stress, ketterampilan organisasi
- Kolaborasi obat sesuai indikasi, sedative, mis. Barbiturate, diazepam
- Rujuk perawat spesialis psikiatrik, pelayanan social dan penasehat agama

6.5IMPLEMENTATION
·         Membantu dengan tujuan-tujuan terapeutik
o             Meningkatkan nutrisi
Nutrisi parenteral total (TPN) seringkali digunakan untuk pasien dengan sakit akut atau dengan penyakit berat dan ditandai dengan penurunan berat badan, hal ini diikuti dengan diet yang elemental seperti yang diberikan pada makanan melalui tube untuk memungkinkan absorpsi yang cepat dalam saluran GI atas dan jumlah yang minimal dalam kolon. Rasa dari makanan merupakan persoalan pada pemberian makanan diet elemental per oral. Menyediakan minuman dingin dan menawarkan rasa yang bervariasi meningkatkan penerimaan pasien. Kemudian diperkenalkan diet secara bertahap yang rendah sisa, tinggi protein dan tinggi kalori.
Susu ditoleransi sedikit saja oleh beberapa pasien dengan colitis ulseratif. Makanan yang diketahui dapat memperberat timbulnya gejala-gejala harus dihindari yang meliputi alcohol, kafein makanan tinggi lemak, dan buah-buahan serta sayuran mentah. Tambahan vitamin biasanya diperlukan, terutama vitamin B12. Bila ada anemia, Irondektran diberikan dengan Z-track injeksi karena intake oral besi tidak efektif akibat adanya ulserasi usus.
o             Obat-obatan
Obat-obatan pada colitis ulseratif meliputi kortikosteroid dan sulpasalazine. Kortikosteroid diberikan dalam dosis tinggi untuk periode singkat untuk penyakit yang berat. Dosis kemudian diturunkan dan diberikan dalam jadwal harian alternative, obat dihentikan jika keadaan dapat deipertahankan dengan sulpasalazine.
Sulpasalazine deberikan untuk mengurangi peradangan dan frekuensi serangan ulang karena obat ini diberikan untuk maintance sebagaimana tujuan terapeutik, instruksi-instruksi untuk pasien meliputi hal-hal sebagai berikut:
*Minum sulpasalazine dalam dosis yang sesuai dengan air satu gelas penuh (240ml)
*Jika terjadi gangguan lambung, minumlah obat setelah makan atau makan makanan lain
*Pertahankan intake cairan yang adekuat untk memberikan output urine minimal 1500ml/hari
*Laporkan efek samping seperti sakit kepala yang terus-menerus, fotosensitivitas, ruam atau terkupas pada kulit, nyeri sendi, perdarahan atau memar yang tidak biasa, jaundice, mual dan muntah yang terus-menerus
*Infertilitas pada pria cepat terjadi
·         Membantu dengan memberikan rasa nyaman dan ADL
Bed ret mungkin dilakukan pada pasien yang sakit akut, dan perawatan harus dilakukan untuk pasien yang kurus karena bagian-bagian yang menonjol harus dilindungi dengan alat-alat pengurangan tekanan, misalnya kasur yang tekanannya berubah-ubah, pengganjal busa atau kulit domba.
Commode atau pispot dikosongkan sesering ia digunakan walaupun ketika defekasi hanya sedikit. Ruangan diberi pewangi untuk mengurangi bau tak sedap. Atau pispot dapat diganjal jika pasien membutuhkan waktu lama untuk duduk diatasnya.
Daerah perineal dicuci sesuai dengan keperluan, paling sedikit beberapa kali sehari ketika diare. Analgetik seperti dibucaine (nupercaine) atau zinc oxide dapat dioleskan pada anus untuk menghilangkan rasa tak nyaman. Lap yang mengandung obat (missal tucks) mungkin lebih membuat nyaman daripada tissue toilet. Sitbath tiga kali sehari untuk kulit dan sirkulasi untuk memberikan kenyamanan pada rectal.
·         Konseling dan pendidikan
o             Aspek-aspek psikologi
Kolitis ulseratif merupakan penyakit seumur hidup dengan periode peningkatan dan peredaan yang dapat mengganggu kehidupan pasien. Emosi dan stress telah diketahui sebagai berperan dalam peningkatan keadaan sakit. Jika penyakit berlangsung dalam jangka waktu lama, pasien biasanya kurus, nervous. Rasa tidak aman, ketergantungan dan depresi dapat timbul.
Komunikasi yang empatik yang senantiasa dijalankan biasanya diperlukan untuk menjalin hubungan tolong-menolong. Hal ini dapat diperlukan untuk merencanakan penggunaan waktu dengan pasien dan dengan keluarga dalam pola yang terakhir.
Pengetahuan tentang penyakit, tes-tes diagnostic dan terapi dapat membantu dalam kecemasan pasien
o             Peningkatan seksualitas
Respon seksual mungkin berkurang akibat penyakit peradangan usus yang kronis dan dapat mengganggu hubungan seksual. Malnutrisi dan diare yang sering menimbulkan penurunan libido. Pasien diberi kesempatan untuk mendiskusikan tentang masalah-masalah tersebut dengan pihak yang terlibat.
·         Pendidikan pasien
Pendidikan pasien adalah hal penting dalam menjalankan prinsip untuk membantu pasien mempelajari perawatan diri yang efektif. Hal-hal penting yang harus dimasukan dalam pendidikan diantaranya adalah:
-          Diet
-          Eliminasi
-          Peningkatan istirahat
-          Program pemeliharaan kesehatan
o             Pembeahan
Kolitis ulseratif dapat ditangani dengan pembedahan. Penggunaanya cenderung pada intervensi pembedahan yang lebih dini untuk pasien yang sakit akut dan pasien yang mengalami gejala peningkatan yang sering. Pembedahan diindikasikan secara jelas ketika komplikasi timbul, meliputi perdarahan yang massive, perforasi usus, striker, dan megakolon toksik yang tidak responsive terhadap pengobatan (pembesaran atau hipertrofi kolon).
Sebuah jenis pembedahan yang lain adalah continent ileostomy ata kantung kock., suatu tempat penampungan intra abdominal dengan sebuah katup semacam putting dibuat dari ileum bagian distal untuk menyediakan tempat penampungan feses. Kapasitas kantung ditingkatkan dan perlahan-lahan dalam beberapa bulan hingga ia dapat menampung kurang lebih 500ml.
Suatu ileoproctostomy terdiri dari pemotongan kolon, pengangkatan mukosa rectal, meninggalkan otot rectum yang utuh dan anastomasis antara ileum dengan sfingter ani.
Jenis pembedahan ini memungkinkan eliminasi melalui anus tetapi karena feses akan sangat encr, inkontinensia usus dapat terjadi.

By:Umy Kulsum Rs 
DAFTAR PUSTAKA
Ignatavicius, Donna D., M.Linda Workman, Mary A. Mishler. 1995. Medical Surgical Nursing a nursing process approach 2nd edition. W.B Saunders Company:USA
Swearingen. 1996. Keperawatan Medikal Bedah E/2. EGC:Jakarta
Long, Barbara C. 1996. Perawatan Medikal Bedah (Suatu Pendekatan Proses Keperatan) 3. YIAPK Pajajaran:Bandung
Doenges, Marilynn E. 1993. Rencana Asuhan Keperawatan pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien Edisi 3. EGC:Jakarta
Rumahorbo, Hotma. 1997. Asuhan Keperawatan Pasien Dengan Gangguan Sistem Pencernaan. Akper Pajajaran:Bandung

No comments:

Post a Comment

Anatomi Fisiologi Reproduksi Wanita

Sistem reproduksi manusia baik pria maupun wanita memiliki struktur organ internal dan eksternalnya masing- masing. Setiap organ dalam sist...