Sunday, December 23, 2012

Askep Pada Anak dengan Hiscprung

BAB IPENDAHULUAN
Latar BelakangHirschsprung atau Mega Colon adalah penyakit yang tidak adanya sel-sel gangliondalam rectum atau bagian rektosigmoid colon, dan ketidakadaan ini menimbulkankeabnormalan atau tidak adanya peristaltik serta tidak adanya evakuasi usus spontan (Betz,Cecily & Sowden: 2000). Penyakit hirschsprung atau mega kolon adalah kelainan bawaanpenyebab gangguan pasase usus tersering pada neonatus, dan kebanyakan terjadi pada bayiaterm dengan berat lahir 3 Kg, lebih banyak laki-laki dari pada perempuan. (Arief Mansjoeer,2000). 

BAB IIPEMBAHASAN
2.1 Definisi Penyakit hisprung atau megakolon aganglionik bawaan diebabkan oleh kelainan inervasi usus, di mulai dari sfingter ani internal dan meluas ke proximal, melibatkan panjang usus yang bervariasi. Hisprung adalah penyebab obstruksi usus bagian bawah yang paling sering terjadi pada neonatus, dengan insiden 1 : 1500 kelahiran hidup. Laki-laki lebih banyak daripada perempuan 4 : 1 dan ada insiden keluarga pada penyakit segmen panjang. Hisprungdengan bawaan lain termasuk sindrom down, sindrom laurance moon-barderbield dansindrom wardenburg serta kelainan kardivaskuler. (Behrman, 1996)Penyakit hisprung disebabkan oleh tak adanya sel ganglion kongenital dalam pleksusintramural usus besar. Segmen yang terkena bisa sangat pendek. Tampil pada usia mudadengan konstipasi parah. Enema barium bisa menunjukkan penyempitan segmen dengandilatasi colon di proksimal. Biopsi rectum bisa mengkonfirmasi diagnosis, jika jaringansubmukosa di cakup. Terapi simtomatik bisa bermanfaat, tetapi kebanyakan pasienmemerlukan pembedahan (G. Holdstock, 1991)

2.2 Etiologi
Penyakit ini disebabkan aganglionosis Meissner dan Aurbach dalam lapisan dindingusus, mulai dari spingter ani internal ke arah proksimal, 70 % terbatas di daerahrektosigmoid, 10 % sampai seluruh kolon dan sekitarnya 5 % dapat mengenai seluruh usussampai pilorus. Diduga terjadi karena faktor genetik sering terjadi pada anak dengan DownSyndrom, kegagalan sel neural pada masa embrio dalam dinding usus, gagal eksistensi,kranio kaudal pada myentrik dan sub mukosa dinding plexus (Budi, 2010) 2.3 Manifestasi KlinisPenyakit ini sebagian besar ditemukan pada bayi akibat dari kelumpuhan usus besardalam menjalankan fungsinya, sehingga tinja tidak dapat keluar. Biasanya bayi baru lahirakan mengeluarkan tinja pertamanya (mekonium) dalam 24 jam pertama. Namun pada bayiyang menderita penyakit Hisprung, tinja akan keluar terlambat atau bahkan tidak dapat keluarsama sekali. Selain itu perut bayi juga akan terlihat menggembung, disertai muntah. Jikadibiarkan lebih lama, berat badan bayi tidak akan bertambah dan akan terjadi gangguanpertumbuhan (Budi, 2010).Menurut Anonim (2010) gejala yang ditemukan pada bayi yang baru lahir adalah :Dalam rentang waktu 24 - 48 jam, bayi tidak mengeluarkan Meconium (kotoran pertamabayi yang berbentuk seperti pasir berwarna hijau kehitaman)Malas makan Muntah yang berwarna hijauPembesaran perut (perut menjadi buncit)Pada masa pertumbuhan (usia 1 -3 tahun) :Tidak dapat meningkatkan berat badanKonstipasi (sembelit)Pembesaran perut (perut menjadi buncit)Diare cair yang keluar seperti disemprotDemam dan kelelahan adalah tanda-tanda dari radang usus halus dan dianggapsebagai keadaan yang serius dan dapat mengancam jiwa.Pada anak diatas 3 tahun, gejala bersifat kronis :Konstipasi (sembelit) Kotoran berbentuk pitaBerbau busuk Pembesaran perutPergerakan usus yang dapat terlihat oleh mata (seperti gelombang)Menunjukkan gejala kekurangan gizi dan anemia

2. 4 Patofisiologi
Penyakit Hirscprung, atau megakolon kongenital adalah tidak adanya sel-sel gangliondalam rektum atau bagian rektosigmoid kolon. Ketidakadaan ini menimbulkan keabnormalanatau tidak adanya peristalsis serta tidak adanya evakuasi usus spontan.Selain itu, sfingter rektum tidak dapat berelaksasi, mencegah keluarnya feses secaranormal. Isi usus terdorong ke segmen aganglionik dan feses terkumpul di daerah tersebut,menyebabkan dilatasinya bagian usus yang proksimal terhadap daerah itu. Penyakithirscprung diduga terjadi karena faktor-faktor genetik dan faktor lingkungan, namun etiologisebanarnya tidak diketahui. Penyakit hairscprung dapat muncul pada sembarang usia,walaupun sering terjadi pada neonatus.2.5 PenatalaksanaanMenurut Yuda (2010), penatalaksanaan hirsprung ada dua cara, yaitu pembedahandan konservatif.a) PembedahanPembedahan pada mega kolon/penyakit hisprung dilakukan dalam dua tahap. Mula-muladilakukan kolostomi loop atau double barrel sehingga tonus dan ukuran usus yang dilatasidan hipertrofi dapat kembali normal (memerlukan waktu kira-kira 3 sampai 4 bulan).Tiga prosedur dalam pembedahan diantaranya : Prosedur duhamelDengan cara penarikan kolon normal ke arah bawah dan menganastomosiskannya dibelakang usus aganglionik, membuat dinding ganda yaitu selubung aganglionik dan bagianposterior kolon normal yang telah ditarik. Prosedur swensonMembuang bagian aganglionik kemudian menganastomosiskan end to end pada kolon yangberganglion dengan saluran anal yang dilatasi dan pemotongan sfingter dilakukan padabagian posterior.
 Prosedur soaveDengan cara membiarkan dinding otot dari segmen rektum tetap utuh kemudian kolon yangbersaraf normal ditarik sampai ke anus tempat dilakukannya anastomosis antara kolon normaldan jaringan otot rektosigmoid yang tersisa.b) Konservatif Pada neonatus dengan obstruksi usus dilakukan terapi konservatif melalui pemasangan sondelambung serta pipa rectal untuk mengeluarkan mekonium dan udara.PerawatanPerawatan yang terjadi :Pada kasus stabil, penggunaan laksatif sebagian besar dan juga modifikasi diet danwujud feses adalah efektif.Obat kortikosteroid dan obat anti - inflamatori digunakan dalam megakolon toksik-Tidak memadatkan dan tidak menekan feses menggunakan tuba anorektal dannasogastric. 

BAB IIIASUHAN KEPERAWATAN PASIEN DENGAN HISPRUNG
A. Pengkajian keperawatan
Pada pengkajian anak dengan penyakit hisprung dapat ditemukan tanda dan gejalasebagai berikut. Adanya kegagalan mengeluarkan mekonium dalam waktu 24-28 jam setelahlahir, muntah berwarna hijau, dan konstipasi. Pada pengkajian terhadap faktor penyebabpenyakit hisprung diduga dapat terjadi karena faktor genetis dan faktor lingkungan. Penyakitini dapat muncul pada semua usia akan tetapi paling sering ditemukan pada neonatus. Padaperkusi adanya kembung, apabila dilakukan colok anus, feses akan menyemprot. Padapemeriksaan radiologis didapatkan adanya segmen aganglionosis diantaranya : apabilasegmen aganglionosis mulai dari anus sampai sigmoid, maka termasuk tipe hisprung segmenpendek dan apabila segmen aganglionosis melebihi sigmoid sampai seluruh kolon makatermasuk tipe hisprung segmen panjang. Pemeriksaan biopsi rektal digunakan untuk mendeteksi ada tidaknya sel ganglion. Pemeriksaan manometri anorektal digunakan untuk mencatat respons refluks sfingter internal dan eksternal.
B. Diagnosis
Diagnosis atau masalah keperawatan yang terjadi pada anak dengan penyakit hisprung(megakolon kongenital) antara lain :
PrapembedahanKonstipasi
Kurang volume cairan dan elektrolit
Gangguan kebutuhan nutrisi
Gangguan pertumbuhan dan perkembanga Pascapembedahan
Nyeri
Risiko infeksiRisiko komplikasi pascapembedahan.
C.Rencana Tindakan Keperawatan 
Prapembedahan Konstipasi Terjadinya masalah konstipasi ini dapat disebabkan oleh obtruksi, tidak adanyaganglion pada usus. Rencana tindakan keperawatan yang dapat dilakukan adalah mencegahatau mengatasi konstipasi dengan mempertahankan status hidrasi, dengan harapan feses yangkeluar menjadi lembek dan tanpa adanya retensi.
Tindakan :
 Monitor terhadap fungsi usus dan karakteristik fesesBerikan spoling dengan air garam fisiologis bila tidak ada kontra indikasi lainKolaborasi dengan dokter tentang rencana pembedahan :Ada dua tahap pembedahan pertama dengan kolostomi loop atau double barrel dimana diharapkan tonus dan ukuran usus yang dilatasi dan hipertropi dapat kembalimenjadi normal dalam waktu 3-4 bulan. Terdapat tiga prosedur dalam pembedahandiantaranya :a. Prosedur duhamel dengan cara penarikan kolon normal ke arah bawah danmenganastomosiskannya di belakang usus aganglionik, membuat dinding ganda yaituselubung aganglionik dan bagian posterior kolon normal yang telah ditarik.
b.Prosedur swenson membuang bagian aganglionik kemudian menganastomosiskan endto end pada kolon yang berganglion dengan saluran anal yang dilatasi danpemotongan sfingter dilakukan pada bagian posterior.
c. Prosedur soave dengan cara membiarkan dinding otot dari segmen rektum tetap utuhkemudian kolon yang besaraf normal ditarik sampai ke anus tempat dilakukannyaanastomosis antara kolon normal dan jaringan otot rektosigmoid yang tersisa  
Kurang Volume Cairan dan Elektrolit
Kekurangan volume cairan dapat disebabkan asupan yang tidak memadai sehinggadapat menimbulkan perubahan status hidrasi seperti ketidakseimbangan cairan dan elektrolit,perubahan membran mukosa, produksi, dan berat jenis urine. Maka upaya yang dapatdilakukan adalah mempertahankan status cairan tubuh.Tindakan : Lakukan monitor terhadap status hidrasi dengan cara mengukur asupan dan keluarancairan tubuh. Observasi membran mukosa, turgor kulit, produksi urine, dan status cairan. Kolaborasi dalam pemberian cairan sesuai dengan indikasi.Gangguan Kebutuhan NutrisiGangguan kebutuhan nutrisi ini dapat timbul dengan adanya perubahan status nutrisiseperti penurunan berat badan, turgor kulit menurun, serta asupan yang kurang, maka untuk mengatasi masalah yang demikian dapat dilakukan dengan mempertahankan status nutrisi.Tindakan : Monitor perubahan status nutrisi antara lain turgor kulit, asupan.Lakukan pemberian nutrisi parenteral apabila secara oral tidak memungkinkan. Timbang berat badan setiap hari.Lakukan pemberian nutrisi dengan tinggi kalori, tinggi protein, dan tinggi sisa.
Risiko Cedera (Injuri)Masalah ini dapat ditimbulkan akibat komplikasi yang ditimbulkan oleh penyakithisprung seperti gawat pernafasan ajut dan enterokolitis. Untuk mengatasi cedera atau injuriyang dapat disebabkan adanya komplikasi maka dapat dilakukan pemantauan denganmempertahankan status kesehatan.
Tindakan : Pantau tanda vital setiap 2 jam (kalau perlu). Observasi tanda adanya perforasi usus seperti muntah, meningkatnya nyeri tekan,distensi abdomen, iritabilitas, gawat pernafasan, tanda adanya enterokolitis. Lakukan pengukuran lingkar abdomen setiap 4 jam untuk mengetahui adanya distensiabdomen.Pascapembedahan
Nyeri
Masalah nyeri yang dijumpai pada pascapembedahan ini dapat disebabkan karenaefek dari insisi, hal ini dapat ditunjukan dengan adanya tanda nyeri seperti ekspresi perasaannyeri, perubahan tanda vital, pembatasan aktivitas.Tindakan : Lakukan observasi atau monitoring tanda skala nyeri. Lakukan teknik pengurangan nyeri seperti teknik pijat punggung (back rub), sentuhan.Pertahankan posisi yang nyaman bagi pasien.Kolaborasi dalam pemberian analgesik apabila dimungkinkan. 
Risiko InfeksiRisiko infeksi pascapembedahan dapat disebabkan oleh dadanya mikroorganismeyang masuk melalui insisi daerah pembedahan, atau kurang pengetahuan pasien dalampenatalaksanaan terapeutik pascapembedahan.
Tindakan : Monitor tempat insisi.Ganti popok yang kering untuk menghindari konstaminasi feses. Lakukan keperawatan pada kolostomi atau perianal. Kolaborasi pemberian antibiotik dalam penatalaksanaan pengobatan terhadapmikroorganisme.
Risiko Komplikasi PascapembedahanRisiko komplikasi pascapembedahan pada penyakit hisprung ini seperti adanyastriktur ani, adanya perforasi, obstruksi usus, kebocoran, dan lain-lain. Rencana yang dapatdilakukan adalah mempertahankan status pascapembedahan agar lebih baik dan tidak terjadikomplikasi lebih lanjut.
Tindakan Monitor tanda adanya komplikasi seperti: obstruksi usus karena perlengketan,volvulus, kebocoran pada anastomosis, sepsis, fistula, enterokolitis, frekuensidefekasi, konstipasi, pendarahan dan lain-lain. Monitor peristaltik usus.Monitor taa vital dan adanya distensi abdomen untuk mempertahankan kepatenanpemasangan naso gastrik.Tindakan perawatan Kolostomi :Siapkan alat untuk pelaksanan kolostomi.Lakukan cuci tangan. Jelaskan pada anak prosedur yang akan dilakukan.Lepaskan kantong kolostomi dan lakukan pembersihan daerah kolostomi. Periksa adanya kemerahan dan iritasi.  Pasang kantong kolostomi di daerah stoma.Tutup atau lakukan fiksasi dengan plester. Cuci tangan 
DAFTAR PUSTAKA
Aziz Alimul Hidayat. 2005. Pengantar Keperawatan Anak II Edisi I. Salemba Medika.Jakarta.
Mansjoer, Arif dkk. 2000 Kapita Selekta KedokteranFKUI : Jakarta.

Nelson. 1998. Ilmu Kesehatan Anak: Ilmu Pediatric Perkembangan edisi kedua. EGC.Jakarta.   

No comments:

Post a Comment

Anatomi Fisiologi Reproduksi Wanita

Sistem reproduksi manusia baik pria maupun wanita memiliki struktur organ internal dan eksternalnya masing- masing. Setiap organ dalam sist...