Tuesday, December 18, 2012

ASKEP FRAKTUR RADIUS



FRAKTUR

A.    PENGERTIAN UMUM
     Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang.Kebanyakan fraktur akibat dari trauma,beberapa fraktur sekunder terhadap proses penyakit seperti osteoporosis,yang menyebabkan fraktur-fraktur yang patologis(Barret dan Bryant,1990).
     Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. Fraktur terjadi jika tulang dikenai stres yang lebih besar dari yang dapat diabsorsinya. Fraktur dapt disebabkan pukulan langsung, gaya meremuk, gerakan puntir mendadak, bahkan kontraksi otot ekstrem.
     Fraktur adalah pemisahan atau patahnya tulang.Ada lebih dari 150 klasifikasi fraktur Lima diantaranya yang utamanya adalah :
1.    Incomplete.Fraktur hanya melibatkan bagian potongan menyilang tulang.Salah satu sisi patah ;yang lain biasanya hanya bengkok(greenstick).
2.    Complete: Garis fraktur melibatkan seluruh potongan menyilang dari tulang ,dan fragmen tulang biasanya berubah tempat.
3.    Tertutup(simple):Fraktur tidak meluas melewati kulit.
4.    Terbuka(Compound):Fragmen tulang meluas melewati otot dan kulit,dimana potensial untuk terjadi infeksi. Fraktur terbuka digradasi menjadi: Grade 1 dengan luka bersih kurang dari 1 cm panjangnya; Grade 2 luka lebih luas tanpa kerusakan jaringan lunak yang ekstensif; dan Grade 3 , yang sangat terkontaminasi dan mengalami kerusakan jaringan lunak ekstensif, merupakan yang paling berat.
5.    Patologis:Fraktur terjadi pada penyakit tulang (seperti kanker,oesteoporosis),dengan tak ada trauma atau hanya minimal.
6.    Fraktur juga digolongkan sesuai pergeseran anatomis fragmen tulang- fraktur bergeser dan tidak bergeser.
Berbagai jenis fraktur diantaranya:
·         Greenstick-fraktur di mana salah satu sisi tulang patah sedang sisi lainya membengkok
·         Transversal-fraktur sepanjang garis tengah tulang
·         Oblik- fraktur membentuk sudut dengan garis tengah tulang(lebih tidak stabil dibanding transversal)
·         Spiral-fraktur memuntir seputar batang tulang
·         Kominutif-fraktur dengan tulang pecah menjadi beberapa fragmen
·         Depresi-fraktur dengan fragmen patahan terdorong ke dalam (sering terjadi pada tulang tengkorak dan tulang wajah)
·         Kompresi-fraktur di mana tulang mengalami kompresi(terjadi pada tulang belakang)
·         Patologik-fraktur yang terjadi pada daerah tulang berpenyakit (kista tulang, penyakit paget,metastasis tulang, tumor)
·         Avulsi-tertariknya fragmen tulang oleh ligamen atau tendo pada peralatannya
·         Epifiseal-fraktur menjadi epifisis
·         Impaksi-fraktur di mana fragmen tulang terdorong ke fragmen tulang lainnya.

B.    PATOFISIOLOGI
Klasifikasi
Fraktur dibagi menjadi dua jenis :
1.    Complete Fracture
2.    Incomplete Fracture
3.    Dislokasi
Klasifikasi ini berdasarkan type, luasnya jaringan yang retak serta lokasi.
Complete Fracture adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang yang luas sehingga tulang terbagi dua bagian dan garis patahnya menyeberang dari satu sisi ke sisi lain sehingga mengenai seluruh konteks.
Incomplete fracture adalah patah atau diskontinuitas jaringan tulang dengan garis patah tidak menyeberang sehingga tidak mengenain konteks (masih ada konteks yang utuh).Sering terjadi pada anak-anak disebut “Greenstich Fracture”.
            Deskripsi Fraktur
Grade  l   : Sakit jelas dan sedikit kerusakan kulit
Grade ll   : Fracture terbuka, merobek kulit dan otot
Grade lll  : Banyak sekali jejas kerusakan kulit,otot dan jaringan syaraf, pembuluh darah
Serta luka sebesar 6-8 cm.


1.      Definisi Fraktur Radius
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas tulang dan ditentukan sesuai jenis dan luasnya. (Brunner & Suddarth, Buku Ajar Medikal Bedah, 2002, hal. 2357).
Fraktur adalah patah tulang biasanya disebabkan oleh trauma atau tenaga fisik (Sylvia A., Patofisiologi, 1995).
Fraktur radius adalah fraktur yang terjadi pada tulang radius akibat jatuh dan tangan menyangga dengan siku ekstensi. (Brunner & Suddarth, Buku Ajar Medikal Bedah, 2002, hal. 2372).

2.  Klasifikasi Fraktur
a)    Fraktur tertutup
Fraktur dengan kulit utuh melewati tempat fraktur dimana tulang tidak menonjol keluar melewati kulit.
b)    Fraktur terbuka
Robeknya kulit pada tempat fraktur, luka berhubungan dengan kulit ke tulang. Oleh sebab itu fraktur berhubungan dengan lingkungan luar, sehingga berpotensi terjadi infeksi. Fraktur terbuka lebih lanjut dibedakan menjadi 3 berdasarkan beratnya fraktur.
·         Grade I : disertai kerusakan pada kulit yang minimal kurang dari 1 cm.
·         Grade II : seperti pada grade I dengan kulit dan luka memar pada otot.
·         Grade III : luka lebih dari 6-8 cm dengan kerusakan pada pembuluh darah.
c)    Fraktur komplit, Patah yang melintang ke seluruh tulang dan sering berpindah dari posisi normal.
d)    Fraktur inkomplit
Meluasnya garis fraktur yang melewati sebagian tulang dimana yang mengganggu kontinuitas seluruh tubuh. Tipe fraktur ini disebut juga green stick atau fraktur hickoristik.
e)    Fraktur comminuted, Fraktur yang memiliki beberapa fragmen tulang.
f)     Fraktur patologik, Fraktur yang terjadi sebagai hasil dari gangguan tulang yang pokok, seperti osteoporosis. Garis fraktur membentuk sudut oblique (sekitar 45o) pada batang atau sendi pada tulang.
g)    Fraktur longitudinal, Garis fraktur berkembang secara longitudinal.
h)    Fraktur transversal, Garis fraktur menyilang lurus pada tulang.
i)      Fraktur spiral, Garis fraktur berbentuk spiral mengelilingi tulang.

2.      Anatomi Fisiologi Tulang Radius
Tulang membentuk rangka penunjang dan pelindung bagi tubuh dan tempat untuk melekatnya otot-otot yang menggerakkan kerangka tubuh.
Komponen-komponen utama dari jaringan tulang adalah mineral-mineral dan jaringan organik (kolagen dan proteoglikon). Kalsium dan fosfat membentuk suatu kristal garam (hidroksida patit), yang tertimbun pada matriks garam (hidroksia patit) yang tertmbun pada matriks kolagen dan proteaglikan matriks organik tulang disebut juga sebagai suatu osteoid. (Sylvia, A. Price, Patofisiologi, Buku II, Edisi 4, Penerbit EGC, 1995).
Tulang tersusun atas sel, matriks protein dan deposit mineral. Sel-selnya terdiri atas tiga jenis dasar osteoblas, osteosit dan osteoklas. Osteoblas berfungsi dalam pembentukan tulang dengan mensekresi matriks tulang.
Osteosit adalah sel dewasa yang terlibat dalam pemeliharaan fungsi tulang dan terletak dalam osteum (unit matriks tulang). Osteoklas adalah sel multinuklear (berinti banyak) yang berperan dalam penghancuran, resorbsi dan remodeling tulang.
Radius adalah tulang di sisi lateral lengan bawah merupakan tulang pipa dengan sebuah batang dan dua ujung dan lebih pendek dari tulang ulna. Ujung atas radius kecil dan memperlihatkan kepala berbentuk kancing dengan permukaan dangkal yang bersendi dengan kapitulum dari humerus. Sisi-sisi kepala radius bersendi dengan takik radial dari ulna. Di bawah kepala terletak leher dan di bawah serta di sebeelah medial dari leher ada tuberositas radii, yang dikaitkan pada tendon dan insersi otot bisep.
Batang radius. Di sebelah atas batangnya lebih sempit dan lebih bundar daripada di bawah dan melebar makin mendekati ujung bawah. Batangnya melengkung ke sebelah luar dan terbagi dalam beberapa permukaan, yang seperti pada ulna memberi kaitan kepada flexor dan pronator yang letaknya dalam di sebelah anterior dan di sebelah posterior memberi kaitan pada extensor dan supinator di sebelah dalam lengan bawah dan tangan.
Ujung bawah agak berbentuk segiempat dan masuk dalam formasi dua buah sendi. Persendian inferior dari ujung bawah radius berbendi dengan ska foid dan tulang semilunar dalam formasi persendian pergelangan tangan. Permukaan persendian di sebelah medial dari yang bawah bersendi dengan kepala dari ulna dalam formasi persendian radio-ulna inferior. Sebelah lateral dari ujung bawah diperpanjang ke bawah menjadi prosesus stiloid radius.
Fungsi dari tulang pada lengan bawah atau tulaang radius adalah untuk pronasi dan supinasi harus dipertahankan dengan menjaga posisi dan kesejajaran anatomik yang baik.
Proses Penyembuhan Tulang
Kebanyakan patah tulang sembuh melalui osifikasi endokondial ketika tulang mengalami cedera, fragmen tulang tidak hanya ditambal dengan jaringan parut, namun tulang mengalami regenerasi sendiri. Ada beberapa tahapan dalam penyembuhan tulang :
a)    Inflamasi
Dengan adanya patah tulang, tulang mengalami respon yang sama dengan bila ada cedera di lain tempat dalam tubuh. Terjadi perdarahan dalam jaringan yang cedera dan terjadi pembentukan hematoma pada tempat patah tulang. Ujung fragmen tulang mengalami devitalisasi karena terputusnya pasokan darah. Tempat cedera kemudian akan diinvasi oleh makrofag (sel darah putih besar), yang akan membersihkan daerah tersebut. Terjadi inflamasi, pembengkakan dan nyeri. Tahap inflamasi berlangsung beberapa hari dan hilang dengan berkurangnya pembengkakan dan nyeri.
b)    Proliferasi Sel
Dalam sekitar 5 hari, hematoma akan mengalami organisasi. Terbentuk benang-benang fibrin dalam jendalan darah, membentuk jaringan untuk revaskularisasi dan invasi fibroblast dan osteoblast.
Fibroblast dan osteoblast (berkembang dan osteosit, sel endotel, sel periosteum) akan menghasilkan kolagen dan proteoglikan sebagai matriks kolagen pada patahan tulang.
c)    Pembentukan kalus
Pertumbuhan jaringan berlanjut dan lingkaran tulang rawan tumbuh mencapai sisi lain sampai celah sudah terhubungkan. Fragmen patahan tulang digabungkan dengan jaringan fibrus, tulang rawan dan tulang serat imatur. Bentuk kalus dan volume yang dibutuhkan untuk menghubungkan defek-secara langsung berhubungan dengan jumlah kerusakan dan pergeseran tulang.
d)    Osifikasi
Pembentukan kalus mulai mengalami penulangan dalam 2-3 minggu patah tulang melalui proses penulangan endokondrial.
e)    Remodeling
Tahap akhir perbaikan tulang meliputi pengambilan jaringan mati dan reorganisasi tulang baru ke susunan struktural sebelumnya. Remodeling memerlukan waktu berbulan-bulan sampai bertahun-tahun tergantung beratnya modifikasi tulang yang dibutuhkan, fungsi tulang, dan pada kasus yang melibatkan tulang kompak dan kanselus – stres fungsional pada tulang.

3.      Etiologi Fraktur Radius
Penyebab paling umum fraktur adalah :
-          Benturan/trauma langsung pada tulang antara lain : kecelakaan lalu lintas/jatuh.
-          Kelemahan/kerapuhan struktur tulang akibat gangguan penyakti seperti osteoporosis, kanker tulang yang bermetastase.

4.      Patofisiologi Fraktur Radius
Fraktur kaput radii sering terjadi akibat jatuh dan tangan menyangga dengan siku ekstensi. Bila terkumpul banyak darah dalam sendi siku (hemarthosis) harus diaspirasi untuk mengurangi nyeri dan memungkinkan gerakan awal.
Bila fraktur mengalami pergeseran dilakukan pembedahan dengan eksisi kaput radii bila perlu. Paska operasi lengan dimobilisasi dengan bebat gips posterior dan sling. Fraktur pada batang radius dan ulna (pada batang lengan bawah) biasanya terjadi pada anak-anak. Baik radius maupun ulna keduanya dapat mengalami patah. Pada setiap ketinggian, biasanya akan mengalami pergeseran bila kedua tulang patah.
Dengan adanya fraktur dapat menyebabkan atau menimbulkan kerusakan pada beberapa bagian. Kerusakan pada periosteum dan sumsum tulang dapat mengakibatkan keluarnya sumsum tulang terutama pada tulang panjang. Sumsum kuning yang keluar akibat fraktur terbuka masuk ke dalam pembuluh darah dan mengikuti aliran darah sehingga mengakibatkan emboli lemak. Apabila emboli lemak ini sampai pada pembuluh darah yang sempit dimana diameter emboli lebih besar daripada diameter pembuluh darah maka akan terjadi hambatan aliran darah yang mengakibatkan perubahan perfusi jaringan.
Kerusakan pada otot atau jaringan lunak dapat menimbulkan nyeri yang hebat karena adanya spasme otot di sekitarnya. Sedangkan kerusakan pada tulang itu sendiri mengakibatkan perubahan sumsum tulang (fragmentasi tulang) dan dapat menekan persyaratan di daerah tulang yang fraktur sehingga menimbulkan gangguan syaraf ditandai dengan kesemutan, rasa baal dan kelemahan. 

5.      Tanda dan Gejala Fraktur Radius
a)    Nyeri hebat pada daerah fraktur dan nyeri bertambah bila ditekan/diraba.
b)    Tidak mampu menggerakkan lengan/tangan.
c)    Spasme otot.
d)    Perubahan bentuk/posisi berlebihan bila dibandingkan pada keadaan normal.
e)    Ada/tidak adanya luka pada daerah fraktur.
f)     Kehilangan sensasi pada daerah distal karena terjadi jepitan syarat oleh fragmen tulang.
g)    Krepitasi jika digerakkan.
h)    Perdarahan.
i)      Hematoma.
j)      Syok
k)    Keterbatasan mobilisasi.

6.      Pemeriksaan Diagnostik Fraktur Radius
1.    Foto rontgen pada daerah yang dicurigai fraktur.
2.    Pemeriksaan lainnya yang juga merupakan persiapan operasi antara lain :
Darah lengkap, Golongan darah, Masa pembekuan dan perdarahan, EKG, Kimia darah.

7.   Therapi/Penatalaksanaan Medik
Ada beberapa prinsip dasar yang harus dipertimbangkan pada saat menangani fraktur :
a)    Rekognisi
Pengenalan riwayat kecelakaan, patah atau tidak, menentukan perkiraan yang patah, kebutuhan pemeriksaan yang spesifik, kelainan bentuk tulang dan ketidakstabilan, tindakan apa yang harus cepat dilakukan misalnya pemasangan bidai.
b)    Reduksi, Usaha dan tindakan untuk memanipulasi fragmen tulang yang patah sedapat mungkin kembali seperti letak asalnya.
Cara penanganan secara reduksi :
·         Pemasangan gips
Untuk mempertahankan posisi fragmen tulang yang fraktur.
·         Reduksi tertutup (closed reduction external fixation)
Menggunakan gips sebagai fiksasi eksternal untuk memper-tahankan posisi tulang dengan alat-alat : skrup, plate, pen, kawat, paku yang dipasang di sisi maupun di dalam tulang. Alat ini diangkut kembali setelah 1-12 bulan dengan pembedahan.
c)    Debridemen, Untuk mempertahankan/memperbaiki keadaan jaringan lunak sekitar fraktur pada keadaan luka sangat parah dan tidak beraturan.
d)    Rehabilitasi, Memulihkan kembali fragmen-fragmen tulang yang patah untuk mengembalikan fungsi normal.
e)    Perlu dilakukan mobilisasi Kemandirian bertahap.

8.    TERAPI DAN PENATALAKSANAN KEPERAWATAN
     Agar hasil tindakan memberikan hasil yang maximal.”Goal” dari tindakan bedah orthopaedi adalah maximum rehabilitasi penderita secara utuh (“Maximum rehabillitation of patients as a whole”).
     Tindakan yang harus diperhatikan agar ektremitas dapat berfungsi sebaik-baiknya maka penanganan pada trauma ektremitas meliputi 4 hal (4 R) yaitu :
a.   RECOGNITION
     Untuk dapat bertindak dengan baik, maka pada trauma ektremitas perlu diketahui kelainan yang terjadi akibat cedernya. Baik jaringan lunak maupun tulangnya dengan cara mengenali tanda-tanda dan gangguan fungsi jaringan yang mengalami cedera.
·         Fraktur merupakan akibat dari sebuah kekerasan  yang dapat menimbulkan kerusakan pada tulang ataupun jaringan lunak sekitarnya.
·         Dibedakan antara trauma tumpul dan tajam. Pada umumnya trauma tumpul akan memberikan kememaran yang “diffuse” pada jaringan lunak termasuk gangguan neurovaskuler yang akan menentukan ektremitas.
b.   REDUCTION
     Adalah tindakan mengembalikan ke posisi semula, tindakan ini diperlukan agar sebaik mungkin kembali ke bentuk semula agar dapat berfungsi kembali sebaik mungkin . Penyembuhan memerlukan waktu dan untuk mempertahankan hasil reposisi(retaining) penting dipikirkan tindakan berikutnya agar rehabilitasi dapat memberikan hasil sebaik mungkin.
c.   RETAINING
     Adalah tindakan imobilisasi untuk memberi istirahat pada anggota gerak yang sehat mendapatkan kesembuhan. Imobilisasi yang tidak adequat dapat memberikan dampak pada penyembuhan dan rehabilitasi.
d.   REHABILLITASI
     Adalah mengembalikan kemampuan dari anggota/alat yang sakit/cedera agar dapat berfungsi kembali. Falsafah lama mengenai rehabilitasi ialah suatu tindakan setelah kuratif dan hanya mengatasi kendala akibat sequaele atau kecacatan; padahal untuk mengembalikan fungsi sebaiknya rehabilitasi, yang menekankan pada fungsi, akan lebih berhasil bila dapat dilaksanakan secara dini, mencegah timbulnya kecacatan.
e.   DISLOKASI
     Dislokasi sendi perlu dilakukan reposisi segera karena akibat dari penundaan akan dapat menimbulkan keadaan avaskuler nekrosis dari bonggol tulang yang menyebabkan nyeri pada persendian serta kekakuan sendi.
     Dalam fase shock lokal (antara 5-20 menit) dimana terjadi relaksasi dari otot sekitar sendi dan rasa baal (hypestesia) reposisi dapat dilakukan tanpa narkose, lewat dari fase shock lokal diperlukan tindakan dengan pembiusan untuk mendapatkan relaksasi waktu melakukan reposisi. Apabila tidak berhasil maka perlu dipikirkan terjadi “button hole ruptur” dari kapsul (simpai) sendi yang dapat “’mencekik” sirkulasi perdarahan daerah bonggol sendi, hal ini memerlukan tindakan reposisi terbuka. Untuk mendapatkan lingkup gerak sendi yang baik, maka selama dilakukan imobilisasi diberikan latihan isometrik kontraksi otot guna mencegah”disuse Athrophy”.

8.      Komplikasi Fraktur Radius
1.    Komplikasi awal setelah fraktur adalah syok.
Bisa berakibat fatal dalam beberapa jam setelah cedera.
2.      Sindroma kompartemen
Masalah yang terjadi saat perfusi jaringan dalam otot kurang dari yang dibutuhkan untuk kehidupan jaringan.
·         Tromboemboli
·         Infeksi.

B.     KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN
1.      Pengkajian
a.       Pola persepsi kesehatan dan pemeliharaan kesehatan
·         Kebiasaan beraktivitas tanpa pengamanan memadai.
·         Adanya kegiatan yang beresiko cedera.
·         Adanya riwayat penyakit yang bisa menyebabkan jatuh.
b.      Pola nutrisi metabolik
·         Adanya gangguan nafsu makan karena nyeri.
c.       Pola tidur dan istirahat
·         Pola tidur terganggu karena nyeri.
d.      Pola aktivitas dan latihan
·         Ada riwayat jatuh/terbentur ketika sedang beraktivitas/kecelakaan lain.
·         Tidak kuat menahan beban.
·         Ada perubahan bentuk/pemendekan pada bagian yang kontraktur.
e.       Pola persepsi dan kognitif
·         Biasanya mengeluh nyeri pada daerah fraktur
·         Mengeluh kesemutan/baal
·         Kurang pemahaman tentang keadaan luka dan prosedur tindakan.
f.       Pola konsep diri dan persepsi diri
·         Adanya ungkapan ketidakberdayaan karena cedera.
·         Rasa khawatir akan dirinya, tidak mampu beraktivitas seperti sebelumnya.
g.      Pola hubungan peran
·         Peran terganggu karena adanya nyeri.
·         Kecemasan akan tidak mampu menjalankan kewajiban memenuhi kebutuhan keluarga.
h.      Pola mekanisme koping dan toleransi terhadap stres.
·         Ekspresi sedih
·         Merasa terasing di rumah sakit.
·         Kaji kecemasan klien.

2.      Diagnosa Keperawatan
1.    Pre-Operasi
1)      Nyeri b.d spasme otot, kerusakan akibat fraktur.
2)      Ketidakmampuan beraktivitas b.d fraktur dan cidera jaringan sekitar.
3)      Resiko tinggi terjadi infeksi b.d fraktur terbuka kerusakan jaringan lunak.
4)      Gangguan pola tidur b.d nyeri.
1.    Post Operasi
1)      Nyeri b.d luka operasi.
2)      Risiko tinggi terjadi komplikasi post operasi b.d immobilisasi.
3)      Ketidakmampuan beraktivitas b.d pemasangan gips dan fiksasi.
4)      Risiko tinggi terjadi infeksi b.d luka post operasi.
5)      Kurang pengetahuan klien tentang perubahan tingkat aktivitas yang boleh dilakukan dan perawatannya saat di rumah.
6)      Gangguan harga diri b.d perubahan peran dan perubahan bentuk fisik atau tubuh.

3.      Perencanaan Keperawatan
a.  Pre-Operasi
1.    Nyeri b.d spasme otot, kerusakan akibat fraktur.
·         Nyeri berkurang atau terkontrol
·         Klien mengatakan nyeri berkurang.
·         Ekspresi wajah tenang.
Rencana Tindakan :
1)      Observasi tanda-tanda vital (TD, S, N, P)
R/ Peningkatan tanda-tanda vital menunjukkan adanya nyeri.
2)      Kaji keluhan nyeri klien : lokasi, intensitas, karakteristik.
R/ Menentukan tindakan yang tepat sesuai kebutuhan klien.
3)      Beri posisi yang nyaman sesuai anatomi tubuh manusia.
R/ Posisi sesuai anatomi tubuh membantu relaksasi sehingga mengurangi rasa nyeri.
4)      Ajarkan teknik relaksasi nafas dalam.
R/ Nafas dalam mengendorkan ketegangan syaraf.
5)      Pertahankan imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring, gips.
R/ Menghilangkan nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang yang cedera.
6)      Beri therapi analgetik sesuai program medik.
R/ Analgetik menghambat pembentukan prostaglandin pada otak dan jaringan perifer.

2.    Ketidakmampuan beraktivitas b.d fraktur dan cidera jaringan sekitar.
·         Kebutuhan hygiene, nutrisi dan eliminasi.
·         Klien dapat melakukan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan klien dan sesuai program medik.
Rencana Tindakan :
1)      Kaji tingkat kemampuan beraktivitas klien.
R/ Menentukan intervensi yang sesuai dengan kebutuhan klien.
2)      Observasi tanda-tanda vital (TD, S, N, P)
R/ Sebagai data dasar dalam melakukan tindakan keperawatan.
3)      Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan yang tidak dapat dilakukan sendiri.
R/ Kerjasama antara perawat dan klien mengefektifkan tercapainya hasil dari tindakan keperawatan.
4)      Dekatkan alat-alat yang dibutuhkan.
R/ Klien dapat memenuhi kebutuhan yang dapat dilakukan sendiri dengan cepat.
5)      Libatkan keluarga dalam membantu pemenuhan kebutuhan klien.
R/ Membantu memenuhi kebutuhan klien.

3.    Resiko tinggi terjadi infeksi b.d fraktur terbuka kerusakan jaringan lunak.
·         Infeksi tidak terjadi
·         Tidak ada kemerahan, pus, peradangan
·         Leukosit dalam batas normal
·         Tanda-tanda vital stabil.
Rencana Tindakan :
1)      Observasi tanda-tanda vital (S, TD, N, P)
R/ Peningkatan tanda-tanda vital menunjukkan adanya infeksi.
2)      Jaga daerah luka tetap bersih dan kering.
R/ Luka yang kotor dan basah menjadi media yang baik bagi perkembangbiakan bakteri.
3)      Tutup daerah luka dengan kasa steril.
R/ Kasa steril menghambat masuknya kuman ke dalam luka.
4)      Rawat luka fraktur dengan teknik aseptik.
R/ Mencegah dan menghambat perkembangbiakan bakteri.
5)      Beri therapi antibiotik sesuai program medik.
R/ Antibiotik menghambat hidup dan berkembang biaknya bakteri.

b.      Post-Operasi
1.    Nyeri b.d luka operasi
·         Nyeri berkurang sampai dengan hilang.
·         Ekspresi wajah tenang.
Rencana Tindakan :
1)      Observasi tanda-tanda vital (TD, S, N, P)
R/ Peningkatan tanda-tanda vital menunjukkan adanya nyeri.
2)      Kaji keluhan, lokasi, intensitas dan karakteristik nyeri.
R/ Menentukan tindakan yang tepat sesuai kebutuhan klien.
3)      Ajarkan tehnik relaksasi nafas dalam.
R/ Nafas dalam dapat mengendorkan ketegangan sehingga dapat mengurangi rasa nyeri.
4)      Beri posisi yang nyaman pada tulang yang fraktur sesuai anatomi.
R/ Posisi anatomi membuat rasa nyaman dan melancarkan sirkulasi darah.
5)      Anjurkan klien untuk imobilisasi bagian yang sakit dengan tirah baring.
R/ Mengurangi nyeri dan mencegah kesalahan posisi tulang.
6)      Beri therapi analgetik sesuai program medik.
R/ Menghambat dan menekan rangsang nyeri ke otak.

2.      Ketidakmampuan beraktivitas b.d pemasangan gips atau fiksasi.
·         Kebutuhan hygiene, nutrisi, dan eliminasi terpenuhi.
·         Klien dapat melakukan aktivitas secara bertahap sesuai kemampuan klien dan sesuai program medik.
Rencana Tindakan :
1)      Observasi tanda-tanda vital (S, N, TD, P)
R/ Sebagai data dasar untuk menentukan tindakan keperawatan.
2)      Kaji tingkat kemampuan klien dalam beraktivitas secara mandiri.
R/ Menentukan tindakan keperawatan sesuai kondisi klien.
3)      Bantu klien dalam pemenuhan kebutuhan hygiene nutrisi, eliminasi yang tidak dapat dilakukan sendiri.
R/ Kerjasama antara perawat dan klien yang baik mengefektif-kan pencapaian hasil dari tindakan keperawatan yang dilakukan.
4)      Dekatkan alat-alat dan bel yang dibutuhkan klien.
R/ Klien dapat segera memenuhi kebutuhan yang dapat dilakukan sendiri.
5)      Libatkan keluarga dalam membantu pemenuhan kebutuhan klien.
R/ Kerjasama antara perawat dan keluarga klien akan membantu dalam mencapai hasil yang diharapkan.
6)      Anjurkan dan bantu klien untuk mobilisasi fisik secara bertahap sesuai kemampuan klien dan sesuai program medik.
R/ Mobilisasi dini secara bertahap membantu dalam proses penyembuhan.

3.    Resiko tinggi terjadi komplikasi post operasi b.d immobilisasi.
·         Komplikasi setelah operasi tidak terjadi.
Rencana Tindakan :
1)      Kaji keluhan klien
R/ Mengetahui masalah klien.
2)      Observasi tanda-tanda vital (TD, N)
R/ Untuk mendeteksi adanya tanda-tanda awal komplikasi.
3)      Anjurkan klien mobilisasi secara bertahap
R/ Meningkatkan pergerakan sehingga dapat melancarkan aliran darah.
4)      Kolaborasi dengan dokter.
R/ Mengetahui dan mendapatkan penanganan dengan tepat.

4.    Resiko tinggi terjadi infeksi b.d luka post operasi.
·         Infeksi post operasi tidak terjadi.
·         Klien tidak mengalami infeksi tulang.
Rencana Tindakan :
1)      Observasi tanda-tanda vital (TD, N, S, P)
R/ Peningkatan tanda-tanda vital menunjukkan adanya infeksi.
2)      Rawat luka operasi dengan tehnik aseptik.
R/ Mencegah dan menghambat berkembang biaknya bakteri.
3)      Tutup daerah luka dengan kasa steril.
R/ Kasa steril menghambat masuknya kuman dalam luka.
4)      Jaga daerah luka tetap bersih dan kering.
R/ Luka yang kotor dan basah menjadi media yang baik bagi perkembangbiakan bakteri.
5)      Beri terapi antibiotik sesuai program medik.
R/ Antibiotik menghambat hidup dan berkembang biaknya bakteri.

5.    Kurang pengetahuan tentang perubahan tingkat aktivitas yang boleh dilakukan dan perawatan di rumah b.d kurang informasi.
·         Klien dapat mengetahui aktivitas yang boleh dilakukan dan perawatan saat di rumah.
Rencana Tindakan :
1)      Kaji tingkat pengetahuan klien tentang penatalaksanaan perawatan di rumah.
R/ Mengukur sejauh mana tingkat pengetahuan klien.
2)      Ajarkan dan anjurkan klien untuk melakukan latihan pasif dan aktif secara teratur.
R/ Dengan latihan aktif dan pasif diharapkan mencegah terjadinya kontraktur pada tulang.
3)      Berikan kesempatan pada klien untuk dapat bertanya.
R/ Hal kurang jelas dapat diklarifikasikan kembali.
4)      Anjurkan klien untuk mentaati terapi dan kontrol tepat waktu.
R/ Mencegah keadaan yang dapat memperburuk keadaan fraktur.
5)      Anjurkan klien untuk tidak mengangkat beban berat pada tangan yang fraktur.
R/ Mencegah stres tulang.

4.      Discharge Planning
a.   Anjurkan klien untuk meneruskan latihan aktif dan pasif yang telah diperoleh selama klien dirawat di rumah sakit.
b.   Anjurkan klien untuk tidak mengangkat beban berat pada tangan yang fraktur, bila memang terpaksa lebih baik dengan menggeser saja.
c.   Anjurkan klien untuk mengkonsumsi TKTP, tinggi kalsium, tinggi vitamin untuk proses penyembuhan tulang.
d.   Anjurkan klien untuk mentaati terapi pengobatan dan kontrol yang tepat waktu.

DAFTAR PUSTAKA
Brunner and Suddarth (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah. Edisi 8 volume 3, Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Black, Joyce M (1997). Medical Surgical Nursing, Clinical Management for Continuity of Care. 5th edition, 3rd volume. Philadelphia. W.B Saunders Company.
Carpenito, Lynda Jual (1997). Diagnosa Keperawatan Aplikasi pada Praktek Klinis. Edisi keenam, Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Doengoes, Marilynn. E (2000). Rencana Asuhan Keperawatan : Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi 3, Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.
Evelyn. C. Pearce (1999). Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Cetakan ke-22, Jakarta. Penerbit PT. Gramedia Pustaka Umum.
Price, Sylvia. A (1995). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-proses Penyakit. Edisi 4 buku 2. Jakarta. Penerbit Buku Kedokteran EGC.

No comments:

Post a Comment

Anatomi Fisiologi Reproduksi Wanita

Sistem reproduksi manusia baik pria maupun wanita memiliki struktur organ internal dan eksternalnya masing- masing. Setiap organ dalam sist...