Wednesday, September 24, 2014

SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT DALAM AGAMA KATHOLIK



SAKRAMEN PENGURAPAN ORANG SAKIT

Baru-baru ini, ketika saya terbaring di rumah sakit, seorang wanita datang untuk mendoakan saya, ia juga mengurapi saya dengan minyak yang diberkati. Menurutnya, ia memperoleh wewenang dari “Seksi Kesehatan” paroki untuk melakukan pelayanan ini. Ketika imam datang untuk memberikan Sakramen Pengurapan, saya mengatakan bahwa saya sudah menerimanya dari seorang wanita. Imam mengatakan bahwa awam tak dapat memberikan pengurapan, jadi saya pikir saya tidak menerima Sakramen Pengurapan Orang Sakit. Mohon penjelasan.
~ seorang pembaca di Falls Church~

Pengurapan Orang Sakit
Banyak umat merasa ngeri bila mendengar kata 'sakramen perminyakan'
Bahkan bila anggota keluarganya mau menerima sakramen ini justru mereka yang merasa cemas dan khawatir. Hal ini disebabkan oleh salah pengertian bahwa sakramen ini adalah 'sakramen penghabisan' yang diberikan hanya pada mereka yang menjelang ajal. Sebenarnya bagaimanakah pemahaman yang benar tentang sakramen ini?

Sakramen Pengurapan Orang sakit (dulu dikenal sebagai Sakramen Perminyakan Terakhir) dirayakan hanya oleh imam atau, tentu saja, uskup. Katekismus Gereja Katolik mengajarkan, “Hanya imam (uskup dan presbiter) adalah pemberi Urapan Orang Sakit” (no 1516). Demikian pula Kitab Hukum Kanonik menegaskan, “Setiap imam, dan hanya imam, dapat melayani pengurapan orang sakit secara sah” (no 1003).

Sakramen perminyakan disebut juga sakramen pengurapan orang sakit. Penerimanya adalah para penderita sakit serius; bukan hanya mereka yang menjelang ajal. Termasuk di sini adalah mereka yang sakit berat, yang akan operasi besar dan orang lanjut usia yang kekuatannya melemah (KGK 1515).
Sakramen perminyakan berhubungan dengar penyakit; bukan dengan akhir hidup manusia. Kenapa orang yang sakit (serius) perlu menerima sakramer perminyakan? Sebab pengalaman sakit menjadi pergumulan orang beriman. Orang yang sakit dihadapkan pada suatu krisis. Memang dengan sakit dia bisa mencari dan kembali pada Allah (bertobat), menjadi lebih matang, melihat apa yang paling penting untuk hidup abadinya.
Tetapi penyakit tak jarang menyebabkan rasa takut, sikap menutup diri, rasa putus asa bahkan memberontak pada Allah (KGK 1501, Katekismus Gereja Katolik). Dalam situasi krisis seperti itulah orang beriman perlu didampingi, didoakan, dan dikuatkan lewat sakramen ini.
Tanda Kehadiran Kerajaan Allah Selama hidupNya, Tuhan Yesus mewartakan datangnya Kerajaan Allah. Hal itu ditandai dengar pengusiran roh-roh jahat dan pengampunan dosa (Mark 2:5-12). Dalam pandangan alkitab penyakil selalu dihubungkan dengan dosa. Karena itu Yesus juga menyembuhkan banyak orang sakit, bahkan mengikutsertakan para murid untuk mengolesi orang sakit dengan minyak dan menyembuhkan mereka (Mark 6:7-13). Penyembuhan orang sakit ditandai dengan penumpangan tangan (Luk 4:40), pengurapan dengan minyak (lambang penyembuhan), dan kontak jasmaniah (Yoh 9:6).
Alasan mengapa sakramen ini hanya boleh dilayani oleh imam adalah karena “pengurapan orang sakit” dan buah-buah rahmat khusus sakramen berkaitan erat dengan Imamat Kristus. Semasa pewartaan-Nya di depan publik, Yesus menyembuhkan banyak orang - yang buta, yang lumpuh, yang kusta, yang bisu dan tuli, yang sakit pendarahan dan yang sekarat. Penyembuhan-Nya menyentuh baik tubuh dan jiwa. Di sebagian besar kisah mukjizat penyembuhan, si sakit dihantar pada keyakinan iman yang lebih mendalam, dan mereka yang menyaksikannya tahu bahwa “Allah telah melawat umat-Nya” (Luk 7:16). Namun demikian, penyembuhan-penyembuhan ini, merupakan pratanda akan kemenangan jaya Kristus atas dosa dan maut melalui sengsara, wafat dan kebangkitan-Nya Sendiri.

Apa yang diperbuat Yesus itu kemudian diteruskan oleh Gereja Perdana seperti yang diberitakan oleh Rasul Yakobus:
'Kalau ada seorang di antara kamu yang sakit, baiklah ia memanggil para penatua jemaat supaya mereka mendoakan mereka serta mengolesnya dengan minyak dalam nama Tuhan. Dan doa yang lahir dari iman akan menyelamatkan orang sakit itu dan Tuhan akan membangunkan dia; dan jika ia telah berbuat dosa maka dosanya itu akan diampuni' (Yak 5:14-15).
Sakramen perminyakan dewasa ini
Dari teks di atas kemudian Gereja mengajarkan (salah satu sumber iman Katolik kita) hal-hal sebagai berikut:
• Penerimanya adalah orang sakit serius; bukan hanya mereka yang menjelang ajal (SC 73, Sacrosanctum Concilium, Konstitusi tentang Liturgi Suci).
• Penatua jemaat artinya uskup dan imam. Hanya mereka yang boleh menerimakan sakramen ini
sebab dalam sakramen ini ada unsur pengampunan dosa.
• Minyak yang dipakai ialah Oleum Infirmorum (OI), yang diberkati Uskup dalam misa Krisma. Dalam keadaan darurat, imam boleh memberkati sendiri minyak nabati (dari tumbuh-tumbuhan).
• Imam menumpangkan tangan lalu mengurapi dahi dan kedua telapak tangan si sakit dengan minyak Ol, sambil berdoa, 'Semoga karena pengurapan suci ini, Allah yang maharahim menolong saudara dengan rahmat Roh Kudus. Semoga Tuhan membebaskan saudara dari dosa dan membangunkan saudara di dalam rahmatNya.'
• Upacara ini bisa dilakukan di rumah, di rumah sakit atau di gereja. Bisa juga diterimakan secara
bersama-sama dengan ritus sakramen Tobat - sakramen Perminyakan - sakramen Ekaristi.
• Yang boleh menerima adalah mereka yang sudah dibaptis secara Katolik dan dapat menggunakan akal budinya. Kalau tidak sadar, sebelumnya dia pernah memintanya atau diandaikan memintanya bila dia sadar.

Buah-Buah Sakramen Perminyakan
Dalam KGK 1520 sakramen ini menanugerahkan rahmat Roh Kudus sehingga:
• si sakit mendapat kekuatan, ketenangan, dan kebesaran hati dalam mengatasi kesulitan karena
sakitnya.
• si sakit membarui iman dan harapan kepada Allah dan menguatkannya melawan godaan setan, godaan untuk berkecil hati dan rasa takut akan kematian.
• Bantuan Tuhan membawa si sakit pada kesembuhan jiwa tetapi juga menuju kesembuhan badan; kalau itu sesuai dengan kehendak Allah. (banyak orang mengalami anugerah istimeiva ini)
• Jika ia berbuat dosa maka dosanya akan diampuni (Yak 5:15)

Oleh @Sebastiana Jempormase dari berbagai sumber

Monday, September 22, 2014

KOREKSI NATRIUM TUBUH

HIPONATREMI

Hiponatremia dapat terjadi pada keadaan tonisitas atau osmolalitas yang rendah, normal ataupun tinggi. Sebagian besar kejadian hiponatremia berkaitan dengan hipotonisitas, yang berarti bila jumlah asupan cairan melebihi kemampuan eskresi. 
Etiologi
Hiponatremia dengan osmolalitas plasma normal
pemberian cairan iso-osmotik yang tidak mengandung natrium ke cairan ekstra sel dapat menimbulkan hiponatremia dengan osmolalitas plasma normal. Termasuk dalam hal ini, keadaan hiperproteinemia dan hiperlipidemia
.
Hiponatremia dengan osmolalitas plasma tinggi
Pada keadaan osmolalitas plasma yang tinggi, seperti pada keadaan hiperglikemia berat atau pemberian manitol intravena. Cairan intrasel akan keluar ke ekstrasel menyebabkan dilusi cairan ekstrasel, dan menyebabkan hiponatremia.
 
Hiponatremia dengan osmolalitas plasma rendah
Terjadi pada keadaan seperti gagal jantung, sirosis, insufisiensi renal, sindroma nefrotik. Keadaan-keadaan ini terjadi dengan volume CES yang meningkat. Pada SIADH, volume CES normal dan pada keadaan muntah atau pada pemakaian diuretik, volume CES menurun.
Hiponatremia akut diartikan sebagai kejadian hiponatremia dalam jangka waktu kurang dari 48 jam. Pada keadaan ini tertjadi perpindahan cairan dari ekstrasel ke intrasel, termasuk ke sel otak. Hal ini akan menyebabkan terjadinya edema otak yang mana keadaan ini merupakan keadaan berat yang dapat menyebabkan kejang dan penurunan kesadaran. Edema otak yang terjadi, dibatasi oleh kranium disekitarnya, yang mengakibatkan terjadinya hipertensi intrakranial dengan resiko brain injury.
Hiponatremia kronik diartikan sebagai keadaan hiponatremia dalam jangka waktu yang lebih dari 48 jam. Gejala yang timbul tidak berat karena ada proses adaptasi. Pada keadaan ini, cairan akan keluar dari jaringan otak dalam beberapa jam. Gejala yang timbul hanya berupa lemas dan mengantuk, bahkan dapat tanpa gejala. Keadaan ini dikenal juga dengan hiponatremia asimtomatik.
Definisi           : keadaan kadar darah Na < 130 mEq/L
Kadar Na  aman sekurangnya 125 mEq/L
Koreksi diberikan bila terdapat gejala SSP (edema otak), atau kadar Na < 120 mEq/L
mEq Na = 125 – Na Serum x 0,6 x BB (kg)
Rumus lainnya:

  • Defisit Natrium = 0,6 x BB (kg) X (140 – Na serum)
  • Durasi penggantian = 2 x (140 – Na serum) [jam]
Larutan NaCl 3% (513 mEq/L), NaCl 5% (855 mEq/L)
Koreksi diberikan dalam 4 jam. Pemberian NaCl 3% dengan dosis 1 mL/kgbb diharapkan dapat meningkatkan kadar Natrium sekitar 1,6 mEq/L. Larutan ini tidak untuk diberikan pada keadaan hiponatremia yang asimptomatik. Kenaikan kadar natrium serum idealnya tidak melebihi 1 mEq/jam
NaCl 3% 1 mEq = 2 cc

HIPERNATREMIA 
Hipernatremia adalah suatu keadaan dengan defisit cairan relatif, dalam artian merupakan keadaan hipertonisitas, atau hiperosmolalitas. Etiologi dari hipernatremia adalah:
Adanya defisit cairan tubuh akibat ekskresi air yang melebihi ekskresi natrium. Seperti pada pengeluaran keringat, insesible water loss, diare osmotik akibat pemberian laktulosa atau sorbitol. Asupan air yang kurang, pada pasien dengan gangguan pusat rasa haus di hipotalamus akibat tumor dan gangguan vaskuler. Penambahan natrium yang berlebihan, seperti pada koreksi asidosis dengan bikarbonat, atau pemberian natrium yang berlebihan. Masuknya air tanpa elektrolit ke dalam sel, misalnya setelah latihan fisik berat.

Keadaan hipernatremia akan membuat cairan intraseluler keluar ke ekstraseluler untuk menyeimbangkan osmolalitas cairan ekstrasel. Hal ini akan membuat terjadinya pengkerutan sel, dan bila terjadi pada sel saraf sistem saraf pusat, maka akan menimbulkan disfungsi kognitif, seperti lemah, bingung, sampai kejang. 
Definisi           : keadaan bila kadar Na darah > 150 mEq/L
Pada keadaan dehidrasi berat disertai syok/presyok berikan NaCl 0,9% atau Ringer Laktat atau Albumin 5%
Setelah syok teratasi berikan larutan yang mengandung Na 75-80 mEq/L, misalnya NaCl-dextrosa (2A) atau DG half strength sampai ada diuresis, kemudian berikan K 40 mEq/L
Bila ada hipokalsemia berikan Ca glukonas sesuai kebutuhan
Penurunan kadar natrium serum tidak melebihi 0,5 mEq/L/jam
Jumlah cairan: defisit cairan dikoreksi dalam 2 x 24 jam (sd 72 jam)
Hari ke-1: 50% defisit + kebutuhan rumatan (rumus Holliday Segar)
Hari ke-2: 50% defisit + cairan rumatan sda
Ideal TBW x 145 mEq/L = Current TBW x Current serum sodium
Current TBW = 0,6 x current weight (kg)
TBW = total body water
Perbedaan perhitungan ideal TBW dan current TBW memberikan perkiraan free water deficit. Sisa volume dehidrasi yang mengandung elektrolit diasumsikan bahwa 60% kehilangan adalah ekstraseluler (mengandung Natrium 140 mEq/L), dan 40% adalah intraseluler (mengandung Kalium 150 mEq/L).

Sumber  :
Darwis D, Munajat Y, Nur MB, Madjid SA, Siregar P, Aniwidyaningsih, W, dkk. Gangguan Keseimbangan Air, Elektrolit dan Asam Basa. Edisi 2. Jakarta : Balai Penerbit FKUI; 2010
Siregar P. Gangguan Keseimbangan Cairan dan Elektrolit. Dalam : Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam. Edisi 4, Jilid I. Jakarta : Pusat Penerbitan Ilmu Penyakit Dalam FKUI; 2006 : 529-37Adrogue JH, Madias EN. Hyponatremia. N Engl J Med 2000; 342 (21): 1581-89
Adrogue JH, Madias EN. Hypernatremia. N Engl J Med 2000; 342 (21): 1493-99

Tuesday, August 26, 2014

laporan pendahuluan askep keluarga 1

LAPORAN PENDAHULUAN 
Kunjungan ke :1
Tanggal : 21 Juli 2013

1.     Latar Belakang
Nama                : Ny. Y
Usia                  : 70 tahun
Keluhan            : Klien mengeluh sakit kepala

a.     Karakteristik Keluarga
Ny. Y merupakan kepala keluarga karena suami Ny. Y sudah meninggal 13 tahun yang lalu, Ny. Y memiliki 3 orang anak, tetapi anak pertama dan kedua Ny. Y sudah meninggal, saat ini Ny. Y hanya tinggal dengan anak ketiga yang berumur 33 tahun yang sudah menikah. Maka keluarga Ny. Y berada pada tahap perkembangan keluarga dengan orang tua usia pertengahan.
b.    Data yang perlu dikaji lebih lanjut
Sejauh mana pengetahuan Keluarga Ny. Y dalam mengatasi keluhan Ny. Y
c.     Masalah Keperawatan
Gangguan rasa nyaman (sakit kepala)

2.     Proses keperawatan
a.     Diagnosa keperawatan keluarga
Gangguan rasa nyaman (sakit kepala) berhubungan dengan ketidakmampuan keluarga dalam merawat klien dengan hipertensi 
b.    Tujuan Umum
Setelah diadakan pertemuan selama 1x30 menit diharapkan klien dan keluarga klien dapat mengenal masalah dan mampu melakukan perawatan pada penderita hipertensi
c.     Tujuan khusus
Keluarga dapat melakukan sendiri perawatan kepada anggota keluarga yang menderita hipertensi
Implementasi Tindakan Keperawatan
a.     Metode                  : ceramah dan diskusi
b.    Media dan Alat       : booklet hipertensi

4.     Evaluasi
Kriteria
1.     Kriteria struktur
a. Laporan pendahuluan sudah dibuat dan dikonsultasikan dengan pembimbing
b. Alat - alat yang diperlukan sudah dipersiapakan
c. Kontrak waktu dengn keluarga sesuai dengan rencana
2.  Kriteria proses
a. Pelaksanaan sesuai dengan tujuan dan waktu yang direncankan
b.Keluarga menerima kehadiran perawat/mahasiswa dan memberikanresponyang baik.
c. Mahasiswa mengajukan pertanyaan dan melakukan observasi
d. Keluarga bersedia menjawab pertanyaan yang diberikan
3. Kriteria hasil
Klien dan keluarga klien dapat mengenal masalah dan mampu melakukan perawatan pada penderita hipertensi


PURPEL GIRL PHOTOGRAPHY

PURPEL GIRL PHOTOGRAPHY
@ANAJEMM on IG

STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SENAM HIPERTENSI



STANDAR OPERASIONAL PROSEDUR SENAM HIPERTENSI
A. Nama Kegiatan
Senam Hipertensi
B. Pengertian
Senam hipertensi adalah bagian dari usaha untuk mengurangi berat badan dan mengelola stress (faktor yang mengelola hipertensi).
C. Tujuan
Untuk menurunkan tekanan darah
D. Waktu
Dilakukan setiap hari ±10 menit / senam
E. Prinsip Senam
1.    Selalu memperhatikan tekanan darah sebelum dan sesudah senam
2.    Latihan dilakukan secara bertahap
3.    Latihan dilakukan secara teratur.
F. Langkah-langkah
1. PEMANASAN
a.    Tekuk kepala kesamping lalu tahan dengan tahan pada sisi yang sama dengan arah kepala. Tahan dengan hitungan 8-10, lalu bergantian dengan sisi lain.
b.    Tautkan jari-jari kedua tangan dan angkat lurus keatas kepala dengan posisi kedua kaki dibuka selebar bahu. Tahan dengan 8-10 hitungan. Rasakan tarikan bahu dan punggung.
2. KEGIATAN INTI
a.    Lakukan gerakan seperti jalan ditempat dengan lambaian kedua tangan searah dengan sisi kaki yang diangkat. Lakukan perlahan dan hindari hentakan.
b.    Buka kedua tangan dengan jemari mengepal dan kaki dibuka selebar bahu. Kedua kepalan tangan bertemu dan ulangi gerakan semampunya sambil mengatur nafas.
c.    Kedua kaki dibuka agak lebar lalu angkat tangan menyerong. Sisi kaki yang searah dengan tangan sedikit ditekuk. Tangan diletakan dipinggang dan kepala searah dengan gerakan tangan. Tahan 8-10 hitungan. Lalu ganti dengan sisi lainnya.
d.    Gerakan hampir sama dengan sebelumnya, tapi jari mengepal dan kedua tangan diangkat keatas. Lakukan bergantian secara perlahan dan semampunya.
e.    Hampir sama dengan gerakan inti I, tapi kaki digerakan ke samping. Kedua tangan dengan jemari mengepal kearah yang berlawanan. Ualangi dengan sisi bergantian.
f.     Kedua kaki dibuka lebar dari bahu. Satu lutut agak ditekuk dan tangan yang searah lutut dipinggang. Tangan sisi yang lain lurus kearah lutut yang ditekuk. Ulangi gerakan kearah sebaliknya dan lakukan semampunya.
3. PENDINGINAN
a.    Kedua kaki dibuka selebar bahu. Lingkarkan satu tangan ke leher dan tahan dengan tangan lainnya. Hitungan 8- 10 x dan lakukan pada sisi lainnya.
b.    Posisi tetap tautkan kedua tangan lalu gerakan ke samping dengan gerakan setengah putaran. Tahan 8-10 hitungan lalu arahkan tangan ke sisi lainnya. Dan tahan dengan hitungan yang sama.

Anatomi Fisiologi Reproduksi Wanita

Sistem reproduksi manusia baik pria maupun wanita memiliki struktur organ internal dan eksternalnya masing- masing. Setiap organ dalam sist...